Tuan Guru Bajang untuk Masa Depan NTB BARU (Bagian 2 – Habis)

Salah satu agenda penting Bulan Bintang Media pada hari ini adalah mengikuti hasil Perhitungan Pilkada NTB, hasil akhir resmi dari KPUD tentu baru selesai dalam beberapa hari kedepan, karena itu menjadi menarik untuk mengikuti Quick Count Pilkada NTB di layar TV One yang dilakukan oleh Lingkaran Survey Indonesia (LSI), setidaknya data awal itulah yang bisa kita pergunakan untuk menggambarkan peta kekuatan masing-masing kandidat :

  • Kandidat Nomor Urut 1 – NAJA (Ir. H. Nanang Samodra KA, Msc – Muhammad Jabir, SH.MH) Didukung oleh Partai Demokrat, PAN ,PNUI, PSI, PKPB dengan persentase dukungan pencalonan 15.38 %, hasil perhitungan cepat LSI memperoleh dukungan pemilih 16,6 %
  • Kandidat Nomor urut 2 – BARU (TGKH.Zainul Majdi, MA – Ir. H. Badrul Munir, MM) Didukung oleh Partai Bulan Bintang dan PKS dengan Persentase dukungan pencalonan 21,81 %, hasil perhitungan cepat LSI memperoleh dukungan pemilih 37,06 %
  • Kandidat Nomor urut 3 – SERIUS (Drs. H.L. Serinata – H.M. Husni Djibril) Didukung oleh Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Bintang Reformasi dan P. Patriot dengan Persentase dukungan pencalonan 49,07 %, hasil perhitungan cepat LSI memperoleh dukungan pemilih 28,68 %
  • Kandidat Nomor urut 4 – ZANUR (Dr. Zaini Arony, MPd – H. Nurdin Ranggabarani, SH. MH) Didukung oleh PPP dan PKB dengan Persentase dukungan pencalonan 16,36 %, hasil perhitungan cepat LSI memperoleh dukungan pemilih 17,67 %

Hasil perhitungan cepat hingga Pukul 17.00 WIB dengan sampel data TPS 99,38 % menunjukkan Pasangan BARU (Tuan Guru Bajang KH. M. Zainul Majdi MA dan Ir. H. Badrul Munir MM) yang didukung Dua Partai Islam yakni Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan Sejahtera memperoleh keunggulan sementara 37,06 % berbanding 28,68 % dari Pesaing terdekatnya (Incumbent Serinata – Husni Djibril). Sisi menarik dari Pilkada NTB ini adalah melemahnya dominasi Lalu Serinata yang didukung oleh dua partai sekaliber Golkar dan PDIP ditambah PBR dan Partai Patriot dengan akumulasi dukungan Pencalonan mencapai 49,07 %.

Gubernur Incumbent Lalu Serinata bisa jadi terbilang berhasil dalam memimpin NTB namun sayangnya tuntutan masyarakat yang sebenarnya jauh lebih besar dari itu, Masyarakat NTB sangat mendambakan sosok pemimpin yang benar – benar baru untuk membangun masa depan NTB Baru.

Kini Masa depan NTB Baru tidak sebatas lukisan indah di atas kertas, cita – cita perubahan bagi Masyarakat NTB semakin terpahat jelas. Kehadiran Pemimpin Baru seperti Tuan Guru Bajang seolah mampu memupuskan dahaga dan meletupkan asa masyarakat untuk berani bangkit dan berjuang bersama-sama merancang masa depan NTB Baru yang Agamis dan Berkemajuan.

Selamat Datang dan Selamat Berjuang Pemimpin Baru !!!

Baca Juga Tulisan Sebelumnya tentang Tuan Guru Bajang

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Tuan Guru Bajang Untuk Masa Depan NTB BARU (Bagian 1)

NTB tengah menyongsong sebuah babak baru dan bersejarah, Pilkada 7 Juli 2008 menjadi tonggak menentukan, akankah cita – cita lahirnya NTB Baru itu lulus menghadapi ujian langsung dari masyarakat ataukah sebaliknya gelombang besar perubahan akhirnya kandas dan masyarakat harus kembali mengubur harapan untuk lahirnya sebuah potret NTB yang benar – benar Baru.

Tuan Guru Bajang (KH. M. Zainul Majdi, MA) sebagai sosok ulama muda yang cerdas, terbuka dan merakyat selama ini menjadi fokus sekaligus tumpuan masyarakat, Jika selama ini Ulama sebatas menguasai mimbar dan menjadi pilar penyangga dan penyeimbang kekuasaan maka sekaranglah saatnya Kita menjadi saksi akankah paradigma dikotomi ulama dan umara masih menjadi doktrin ideal masyarakat kita, ataukah masyarakat justru menginginkan perubahan yakni hadirnya sebuah kepemimpinan utuh sebagaimana Rasulullah SAW yakni sebagai Amirul Mukminin, pemandu ummat dan pemimpin bangsa.

Menjelang seabad Mohammad Natsir kita perlu mengingat betapa Pak Natsir yang tak pernah penat memandu ummat sejatinya adalah juga potret pemimpin bangsa yang sukar dicari bandingannya, Beliau adalah pemimpin sederhana yang amanah. Mosi integral-nya berhasil menyatukan kembali bangsa dan negara ini sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berbagai jabatan pemerintahan dari kursi kabinet hingga Perdana Menteri telah sukses beliau tunaikan. Beliau Pak Natsir adalah guru bangsa sejati, pada saat berkompeten menyusun kabinet beliau tidak serta merta mengakomodasi kepentingan golongan, beliau justru secara tegas melontarkan gagasan Zaken Kabinet (kabinet ahli) yang menjadi inspirasi bagi lahirnya uji kepatutan dan kelayakan (fit anda proper test) pada masa sekarang ini.

Tuan Guru Bajang tidak hanya milik Keluarga Besar Partai Bulan Bintang atau ummat Islam semata melainkan asset ummat dan harapan masyarakat NTB secara keseluruhan, Keberhasilan Tuan Guru Bajang memenangkan hati masyarakat bermakna sebuah langkah untuk mewujudkan masa depan NTB BARU, sebuah harapan akan lahirnya Natsir – Natsir muda untuk membangun masa depan Indonesia…’<Insyaallah>’

Klik disini untuk membaca tulisan lain yang terkait

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Tuan Guru Bajang , Demi Ishlahul Ummah melangkah di Jalur Perjuangan Syariah

tuan-guru-bajang-dan-bulan-bintang-media.jpg
Jabatan menteri agama pernah disandang oleh Tokoh Kita kali ini yang bernama lengkap TGKH Muhammad Zainul Majdi, MA. Koalisi Muda Parlemen Indonesia (KMPI) yang membentuk kabinet bayangan tentu tidak asal comot ketika memilih Tuan Guru Bajang sebagai menteri agama , dalam proses penyusunan Shadow Government KMPI melakukannya secara terukur melalui seleksi, kesediaan dan kecakapan. Secara obyektif ulama muda kharismatik yang juga anggota DPR RI asal Partai Bulan Bintang ini dinilai mampu menduduki pos penting itu.
Tuan Guru Bajang adalah penerus perjuangan Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan (NW) yang merupakan ormas Islam terbesar dan memiliki peran menentukan di Nusa Tenggara Barat. Semangat pergerakan yang mengalir dalam diri TGB mengingatkan kita kepada sosok Kiai Haji Mas Mansur, seorang ulama besar dan salah satu pejuang terbaik bangsa yang sesungguhnya juga pemrakarsa berdirinya Madrasah Nadhlatul Wathan di Surabaya.
Tuan Guru Bajang maupun Tuan Guru Mas Mansur tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang agamis, sama – sama menyadari pentingnya bekal ilmu yang memadai untuk memandu ummat, menuntut ilmu di almamater yang sama yakni Universitas Al Azhar Cairo (mesir) bahkan TGB mendapat gelar MA dan menjadi kandidat doktor, keduanya adalah ulama yang berketetapan hati bahwa Politik adalah alat dakwah dan media perjuangan sementara perjuangan penegakan syariat Islam harus digelorakan tanpa mengesampingkan kewajiban untuk senantiasa melindungi hak – hak ummat lain yang menjadi minoritas.
Islam yang Rahmatan lil Alamin tidak terjadi dengan sendirinya melainkan sebuah cita – cita yang secara Istiqomah harus diperjuangkan.
Pandangan TGB yang luas tentang Politik
Sesungguhnya seluruh wilayah kehidupan adalah lahan untuk dakwah. Termasuk wilayah politik. Apabila kemaslahatan dakwah menuntut kita untuk memanfaatkan politik, maka terjun ke politik adalah satu keniscayaan. Ketika kita melihat peluang untuk ishlahul ummah (memperbaiki umat) dapat dilakukan melalui jalur politik, maka hal itu harus dilakukan.
Politik (siyasah) dalam pandangan Islam adalah salah satu instrumen atau alat perjuangan. Maka dalam Islam dikenal as-siyasah asy-syar’iyyah yang menerangkan posisi politik sebagai alat dakwah. Politik dalam Islam adalah politik etis yang mengedepankan cara-cara yang positif dalam mencapai tujuan. Politik dalam Islam tidak dan bukanlah politik yang menghalalkan segala cara. Para nabi, seperti Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf bahkan Nabi Muhammad SAW berpolitik. Mereka menjadi pemimpin (raja). Itu tidak menyebabkan mereka berkurang derajat justru semakin mulia di sisi Alloh SWT. Zaman sekarang, politik sering dianggap kotor karena banyak diisi oleh orang-orang yang berpolitik dengan cara kotor, walaupun tentu tidak semuanya. Politik bisa menjadi baik apabila diisi oleh orang-orang baik. Politik itu seperti wadah atau gelas. Diisi racun menjadi mudharat. Diisi madu menjadi bermanfaat.
Sekilas tentang Tuan Guru Bajang
KH. Muhammad Zainul Majdi, MA, alias Tuan Guru Bajang Lahir di Pancor – Lombok Timur pada tanggal 31 Mei 1972 M / 18 Rabiul Akhir 1392 H, merupakan putra ketiga dari pasangan H.M.Djalaluddin, SH dengan Ummi Hajjah Siti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid. Mengenyam pendidikan dasar di SDN 2 Mataram, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Madrasah Mua’allimin Nahdlatul Wathan Pancor, Ma’had Daarul Qur’an Wal Hadist Nahdlatul Wathan Pancor. Kemudian melanjutkan study di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al Qur’an Universitas Al Azhar Cairo (Mesir) dan lulus meraih gelar Lc pada tahun 1995 dan Master of Art (MA) pada tahun 2000. Sejak tahun 2002 menjadi kandidat doktor di Fakultas Ushuluddin Jurusan tafsir dan Ilmu-Ilmu Al Qur’an Universitas Al Azhar Cairo (Mesir). Pada Tahun 1997 Tuan Guru Bajang menikahi Hajjah Rabiatul Adawiyah, SE putri KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii, Pimpinan Perguruan Islam Pondok Pesantren As Syafiiyah Jakarta dan telah dikarunia 4 orang putra dan putri.
Selain Aktivitas dakwahnya yang makin luas baik di Nusa Tenggara Barat maupun di Jakarta dan sekitarnya, TGB juga mendapat sejumlah kepercayaan dari ummat yaitu sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan dan Anggota Komisi X DPR-RI periode 2004 – 2009, beliau juga memangku amanat sebagai Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor – Lombok Timur, Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi dan Pimpinan Pondok Pesantren Darun Nahdlatain Nahdlatul Wathan Pancor.
Seluruh amanat yang diembannya menunjukkan dedikasi perjuangannya yang besar tidak hanya bagi warga Nahdlatul Wathan dan NTB melainkan demi sebuah pencapaian yang tertinggi untuk ummat, bangsa dan negara.Selamat Berjuang Tuan Guru…Selamat Datang Fajar Kebangkitan Syariah di Belahan Timur Indonesia.

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.