Partai Bulan Bintang harus Bongkar Agenda dibalik politisasi vonis bebas adelin lis

msk-saat-ktt-dunia.jpg

Kasus vonis bebas adelin lis akhirnya meletup juga, di blow up oleh banyak media dan berbagai rumors spontan mengemuka, kelanjutannya bisa ditebak semua yang pada awalnya wajar belakangan justru bergulir deras penuh bias yang kental bermuatan politis dan untuk kesekian kalinya lagi – lagi aspek hukum menjadi kabur dan jauh tertinggal.

MS Ka’ban Mengurai Fakta

Menhut MS Kaban tidak terima bila surat jawabannya pada kuasa hukum Adelin Lis dituding sebagai biang bebasnya tersangka kasus penebangan liar itu dari jerat hukum. Ia balik menyebut pihak jaksalah yang seharusnya paling bertanggung jawab.

“Di pengadilan, dakwaan merugikan negara tidak terbukti. Timbul pertanyaan, mengapa penuntut mengajukan tuntutan yang ternyata bisa terbantahkan dengan bukti-bukti sah. Salah siapa?” gugatnya dalam diskusi ‘Hutan kau babat, kau kubebaskan’ di Marios Place, Jl Raya Cikini, Jakarta, Sabtu (10/11).

Kaban mengungkapkan, sebelum ini ada dua orang dari perusahaan yang sama didakwa dalam kasus sama dengan tuntutan dan pasal yang sama pula. Dua terdakwa itu mendapat vonis bebas. Tapi anehnya, pihak jaksa menggunakan jurus sama untuk kasus Adelis Lin.  “Kenapa masih pakai tuntutan yang sama? Yang (terdakwa kasus penebangan liar) di Papua juga bebas semua pakai itu. Mengapa tidak introspeksi?” …(kutipan dari http://www.pbb-info.com)

Catatan yang tersisa dari reshuffle KIB Jilid 2

Ingatan kitapun terbawa pada kasus korupsi pengadaan alat sidik jari di depkumham, polemik Bung Yusril dan Ketua KPK yang seharusnya bisa menjadi proses pembelajaran dalam wacana penegakan hukum di tanah air justru berbalik arah menjadi politisasi yang menajam dan dibumbui lagi dengan Polemik uang Tommy di BNP Paribas maka siapa akan menyangka jika ujung – ujungnya adalah tersedianya alat legitimasi bagi SBY dengan mengatasnamakan tuntutan masyarakat secara antiklimaks mendepak dan menggusur Bang Yusril, Bang Abdurahman Saleh dan Bang Hamid Awwaludin dari kursi Kabinet Indonesia Bersatu.

Jika ditinjau secara mendalam sesungguhnya SBY bisa saja bebas menggunakan hak preogratifnya tapi penyesalan yang tersisa adalah mengapa harus ada “penjagalan secara sepihak” yang tidak sejalan dengan ruh kebersamaan yang diusungnya (“bersama kita bisa”) pada saat kampanye pilpres dan pembentukan KIB.

Pelajaran yang bisa dipetik

Politisasi Kasus Adelin Lis dan besarnya nuansa pembunuhan karakter dalam hal ini atas Menhut yang kebetulan dijabat oleh MSK yang merupakan ketua umum Partai Bulan Bintang tidak bisa dibiarkan bebas berhembus tanpa ada upaya pelurusan dari berbagai pihak terkait. Sanggahan MSK diatas sebenarnya sudah cukup memberi gambaran akar permasalahan sebenarnya namun tetap saja reduksi citra MSK dan PBB tidak terelakkan.

Seharusnya SBY bisa mengambil langkah -langkah menetralisir kasus yang menerpa MSK sebagaimana SBY menetralisir kasus aliran dana asing saat Pilpres 2004 yang sempat santer berhembus dan sempat melibatkannya berpolemik dengan Amien Rais

Adalah logis jika SBY dituntut agar bisa menjaga performance dan kinerja kabinetnya termasuk didalamnya kinerja departemen kehutanan yang dipimpin MSK terlebih jika SBY merasa “berdosa” telah “salah” copot dalam Reshuffle Jilid 2.

Atau inikah skenario yang untuk kesekian kalinya menjadikan PBB dan kader – kader terbaiknya terpilih menjadi sasaran yang “ternistakan”???

Tak cukup sanggahan MSK, harus ada sikap tegas Partai

Tentu Sebagai Partai Politik PBB harus bisa menyelesaikan kasus adelin lis ini juga secara politik agar tidak menjadi kerikil – kerikil sandungan atau dijadikan amunisi gratis oleh berbagai pihak untuk mengganjal PBB pada 2009 nanti.
Tak cukup kasus adelin lis ini disikapi dengan sanggahan MSK semata sebab sesungguhnya institusi partai sedang diuji, jika tidak dibongkar dan dituntaskan segera maka skenario – skenario serupa akan berulang dan berulang kembali.
Partai Bulan Bintang harus secara tegas dan pro aktif mengajukan “keberatan” kepada Kapolri, Jaksa Agung dan Mahkamah Agung sebagai institusi yang berwenang agar masalah vonis bebas adelin lis benar – benar dibongkar tuntas agar tidak menjadi benang kusut yang berlarut – larut.

Politisasi kasus adelin lis pada hakikatnya bisa berdampak meluas sebab tidak hanya MSK dan PBB yang ternistakan melainkan kebenaran dan perjuangan penegakan syariat Islam menjadi turut ternistakan. Jika sudah begini apatah lagi yang bakal terjadi ???

 

Wallahua’lam (Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media, link : http://www.pbb-info.com)

Iklan

PARTAI BULAN BINTANG Kembar Identik DENGAN PARTAI BINTANG BULAN

dua-bulan-bintang2.jpg

Sinisme negatif mengurai ke permukaan, seolah secara sengaja dijadikan amunisi pamungkas oleh berbagai kalangan yang sedari awal merasa gerah dan jengkel dengan keberhasilan bulan bintang untuk terus mempertahankan eksistensi partai dan eksistensi perjuangannya, Betapa tidak banyak yang geleng – geleng kepala melihat pewaris masyumi yang dikehendaki “gugur” dan terganjal tapi justru berhasil bangkit dan bangkit lagi.

Inilah hakikat perjuangan yang hingga kapanpun tidak pernah kan padam karena sumber bara perjuangan itu masih panas bergejolak, satu saluran boleh saja tersumbat namun bersiap akan hadir saluran berikutnya untuk terus mengalirkan energi perjuangan.

Bung Hamdan Zoelva memaparkan, kedua partai : Partai Bulan Bintang dan Partai Bintang Bulan ini akan berjalan beriringan. PBB melaksanakan program dan kegiatan politik-politiknya, demikian pula Partai Bintang Bulan. “Apabila PBB lolos mengikuti Pemilu 2009, Partai Bintang Bulan akan melebur ke dalam PBB. Namun jika ternyata PBB tidak lolos dan Partai Bintang Bulan yang lebih memenuhi syarat, PBB yang akan bersatu dengan Partai Bintang Bulan,” katanya menegaskan.

Pembentukan Partai Bintang Bulan lebih mengarah pada pada sisi administrasi, guna mempertahankan eksistensi PBB. Dua “mesin” tersebut akan sama-sama berjalan dengan saling berkoordinasi untuk memperluas dan memperbesar kekuatan kedua partai hingga pada saatnya nanti digabungkan.

Partai Bulan Bintang dan Partai Bintang Bulan hakikatnya adalah satu dan identik, pada saatnya nanti dua bulan bintang akan bersatu padu, bergerak dalam satu tarikan nafas pergerakan yang sama. Sementara kekuatan integrasi Partai Bulan Bintang dan Partai Bintang Bulan bisa menjadi modal penggelembung suara yang InsyaAllah kian mengibarkan eksistensi partai sebagai Fajar baru Kebangkitan Islam dan Ummat Islam di Persada Nusantara tercinta…(Badrut Tamam Gaffas, kunjungi juga : http://www.pbb-info.com/)

Partai Bulan Bintang, Pengawal Sejati Kemajemukan Ummat Islam

 Ruh “pluralisme” dalam icon 22 in 1

pbb_muktamar1.jpg

Bukan Rahasia Lagi jika pasca runtuhnya hegemoni kekuasaan orde baru tepatnya pada bulan Juli 1998 Partai Bulan Bintang lahir dan dideklarasikan untuk pertama kalinya oleh beragam komponen ummat Islam yang berjumlah tak kurang dari 22 ormas, icon 22 in 1 inilah yang sesungguhnya menjadi ruh “pluralisme” kalangan agamis yang berusaha di presentasikan oleh Partai Bulan Bintang.

Sementara kultur Masyumi dalam PBB tidak perlu diragukan apalagi diperdebatkan karena hakikatnya setelah berakhirnya era politik Masyumi yang fenomenal itu para tokoh Masyumi dengan diprakarsai oleh Pak Natsir membina gerakan dakwah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII). Dalam Pluralisme “22 in 1” itulah DDII kemudian mampu tampil menjadi pilar utama serta menentukan yang diyakini sanggup mengadopsi semangat pergerakan dan meneruskan idealisme besar sang leluhur “Masyumi”.

Catatan Bung Haedar Nashir

Dalam tinjauan pluralisme muhammadiyah termasuk salah satu diantara komponen 22 in 1 yang terlibat kedekatan “personal” dengan PBB, sehingga dalam mengurai dinamika pluralisme itulah penting untuk disimak beberapa pernyataan Dr. Haedar Nashir dalam bukunya yang berjudul “Dinamika Politik Warga Muhammadiyah”

Haedar Nashir di kalangan Muhammadiyah dikenal sebagai figur muda dengan popularitas yang cenderung menanjak dan seringkali melontarkan gagasan untuk mengembalikan muhammmadiyah ke khittah dengan makin mendorong muhammadiyah sebagai institusi keagamaan lebih ke wilayah dakwah dengan konsisten menjaga independensi terhadap partai politik.

Kegelisahan Bung Haedar ini beralasan lantaran belakangan muhammadiyah semakin kuat terbawa arus politik dan wajah muhammadiyah-pun tak kurang tak lebih makin identik dengan PAN dan sosok Amien Rais sementara fakta kegagalan PAN menjadi partai besar terlebih pada Pemilu 2004 dan puncaknya gagalnya duet amien – siswono kian menguatkan hipotesa bahwa PAN bukanlah satu – satunya pilihan politik warga muhammadiyah.

“Didalam muhammadiyah sendiri tumbuh perdebatan teologis yang bersifat klasik mengenai konfigurasi politik umat islam ditengah pluralitas masyarakat, Perdebatan ini menggambarkan perbedaan visi keagamaan dalam memandang politik antara yang berorientasi ideologis dan praktis -strategis, antara aliran formalis dengan substansialis, yang ikut melahirkan polarisasi sikap politik…apapun perdebatan yang muncul itu pada akhirnya memerlukan ruang dialog yang jernih dan obyektif.” (Dinamika Politik Muhammadiyah, Haedar Nashir, UMM Press 2006, Hal 16 – 17)

Ketika Disorientasi menghinggapi

Jika kita telusuri jejak reformasi yang bermuara pada lahirnya partai – partai politik akan nampak jelas betapa disorientasi telah menghinggapi tokoh – tokoh Islam yang semula banyak diharapkan, sebut saja sang lokomotif reformasi Prof Dr. Amien Rais yang semula diberikan amanat penuh untuk mempelopori lahirnya satu wadah Partai Islam yang modernis bahkan berulang kali diminta kesediaannya untuk menjadi pimpinan tertingginya justru menolak dengan dalih “Ideologi Islam ibarat baju yang terlalu sempit dan sesak untuk dikenakan”, sebagai gantinya Amien Rais justru menggandeng tokoh – tokoh nasionalis dan mendeklarasikan partai baru “Partai Amanat Nasional” yang ber- plat form nasional.

Banyak pihak termasuk dalam elite pimpinan muhammadiyah sendiri yang sesungguhnya menyayangkan langkah Amien Rais yang dinilai bergeser dan mengalami disorientasi lantaran meninggalkan “komunitas” dan menyebrang ke komunitas yang lebih besar yang dikemudian hari ternyata terbukti “gagal” mengantarkannya menjadi pemimpin masa depan. Belakangan kalangan muda yang merasa terpinggirkan dalam kiprah PAN mendeklarasikan PMB “Partai Matahari Bangsa”

Minimnya raihan dukungan bagi pasangan “Dwi Tunggal Amien – Siswono” pada Pilpres 2004 menguatkan hipotesa bahwa sebagian besar komunitas muslim termasuk didalamnya muhammadiyah telah dihinggapi krisis kepercayaan terhadap duet dwi tunggal tersebut, salah satu alasannya lantaran Siswono bukanlah sosok yang bisa merebut simpati dikalangan komunitas muslim sementara raihan dukungan dari kubu Siswono yang nasionalis samasekali tidak tampak signifikan dan justru “meragukan” untuk diharapkan.

Ijtihad Politik yang menuai Kritik dan Kontroversi

Mengalami nasib yang kurang menggembirakan dalam Pemilu 2004 menjadikan PBB harus membuat lompatan – lompatan politik yang strategis dan menentukan, inilah asbabun nuzulnya sehingga PBB mengusung sosok Jusuf Kalla dan memilih terlibat dalam koalisi tiga kaki bersama PD dan PKPI yang mengusung duet SBY – JK.

koalisi-3-kaki-dan-sby-jk.jpg

Secara cerdik PBB berhasil memecah kekuatan Golkar khususnya di Sulawesi sebagai daerah asal “JK” yang merupakan kantong – kantong besar pendulang suara. Dalam koalisi tiga kaki itu PBB mendapat jaminan untuk tetap memperjuangkan idealisme penegakan Syariat Islam secara konstitusional andaikan duet SBY – JK menang.

Terlepas dari ijtihad politik PBB yang menuai kritik dan kontroversi, kita sebenarnya patut memberikan apresiasi positif sebab kemenangan koalisi tiga kaki pada Pilpres putaran I kemudian di-amini dengan dukungan yang lebih luas dari Partai – partai yang semula mengusung dan mendukung duet Amien – Siswono pada Putaran II dan secara keseluruhan meski pada awalnya menuai kritik dan kontroversi namun sesungguhnya ijtihad politik PBB telah membuka ruang bagi kelangsungan peran politik ummat Islam dalam kurun waktu 5 tahun pemerintahan SBY – JK.

Keluarnya salah satu kader terbaik “Bung Ahmad Sumargono” adalah pilihan beliau secara pribadi yang semestinya dihargai bukan justru dipertentangkan dengan menghembus – hembuskan isu perpecahan dalam tubuh Partai Bulan Bintang yang sejak awal kelahirannya telah menyatakan diri sebagai partai yang “anti kultus individu” , keluarnya Bung Gogon spontan menyentakkan tapi tidak sampai meretakkan.

 

Kritik Bung Haedar Nashir terhadap PBB

Paparan diatas sedikit banyak telah menjawab kritik yang dilontarkan Bung Haedar Nashir seperti kutipan berikut :

“Partai ini mungkin termasuk partai politik islam modernis yang paling mengalami nasib tidak menggembirakan, kalau tidak dikatakan merana. Dililit oleh perpecahan internal yang serius, ditinggalkan oleh para politisi (pendukung masyumi yang idealis), belakangan mengalami disorientasi politik dengan bergabung bersama PD dalam mendukung pencalonan SBY – JK dalam Pilpres 2004. Kalaupun langkah politiknya menang tetapi meninggalkan luka politik bagi kalangan islam modernis yang lain, …” (Dinamika Politik Muhammadiyah, Haedar Nashir, UMM Press 2006, Hal 158-160).

 

Kritik tersebut haruslah disambut, PBB kedepan harus mampu mewadahi kembali dinamika pluralisme Ummat Islam dan membinanya hingga menjadi satu kekuatan besar yang menentukan dan diperhitungkan…sebuah dinamika pluralisme yang mengerucut pada sinergi 22 in 1 dengan spektrumnya yang makin meluas dan membumi.

 

(Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

 

PARTAI BULAN BINTANG LUNCURKAN SITUS BARU

bulan-bintang-dan-bintang-bulan.jpg

Bagi Semua Keluarga Besar Partai Bulan Bintang dimanapun bisa mengakses langsung di :

http://www.pbb-info.com

Partai Bulan Bintang pada ramadhan lalu telah me-launching website baru yang insyaAllah dibuat dengan semangat dan gelora yang baru ditengah pergolakan “bulan bintang bangkit”.

Harapannya tentu semoga website ini populer setidaknya dikalangan keluarga besar PBB sendiri terutama untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa Partai Bulan Bintang maupun Partai Bintang Bulan pada hakikatnya sama alias kembar identik yang dimaksudkan untuk satu kepentingan strategis, Website ini tentu menjadi media yang uptodate dan faktual dalam menampilkan profil, agenda, pergerakan serta perjuangan partai , menyediakan informasi – informasi yang hangat, aktual, mencerdaskan, mencerahkan, menyejukkan dan sebagainya dengan melibatkan partisipasi aktif semua jajaran keluarga besar bulan bintang.

Forum Laskar Hijau Partai Bulan Bintang

Forum Laskar Hijau Partai Bulan Bintang

Forum Laskar Hijau Partai Bulan Bintang

Alhamdulillah Atas Berkat Rahmat Allah SWT akhirnya Forum Laskar Hijau bisa hadir dan online, tentunya semoga keberadaan forum ini bisa membulatkan tekad dan menebalkan semangat untuk berkontribusi secara aktif dan positif untuk bersama-sama sebagai Laskar Hijau menyuarakan “Hijau Partaiku – Hijaukan Negeriku”, maka Jangan ragu untuk BERGABUNG, MENSOSIALISASIKAN dan MEREFERENSIKAN keberadaan forum ini dengan mengajak saudara-saudara yang lain untuk bergabung.

Silahkan Akses di http://laskarhijau.com

Saya sudah mencoba, alhamdulillah website dan Forum Laskar Hijau sejauh ini baik dan untuk login pun sangat mudah. Jadi tunggu apalagi segera saja mengakses, login sebagai member dan berkontribusi secara kreatif terhadap dinamika Keluarga Besar Bulan Bintang kini dan dimasa yang akan datang

Sekilas profil Partai Bulan Bintang kini juga tersedia di Youtube dan bisa diakses sebagai berikut :


Semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi bagi kita semuanya…Wallahua’lam

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untu Bulan Bintang Media)

Dukung dan Sukseskan Pertamina Blog Contes 2009 : Kerja Keras Adalah Energi Kita