CATATAN AKHIR TAHUN BULAN BINTANG MEDIA

masjid-chengho-bulan-bintang-dan-bintang-bulan.jpg

 

Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada semua peselancar di blog Bulan Bintang Media terutama yang bersedia untuk berbagi, meninggalkan pesan dan komentar serta tak jarang jalinan silaturrahim melalui Blog BBM ini berlanjut pula dengan komunikasi yang lebih luas dan bermakna, besarnya antusiasme ini setidaknya memberikan dorongan semangat untuk membangun blog yang lebih padat dari sisi informasi (konten) namun tetap menarik dari segi penyampaian dan penampilan visual.

Khusus bagi keluarga besar bulan bintang muncul sebuah harapan agar blog ini terus berlanjut sebagai bagian dari jembatan komunikasi untuk lebih mendekatkan kembali PBB (Partai Bulan Bintang atau Partai Bintang Bulan) kepada basis konstituennya yakni keluarga besar bulan bintang dimanapun mereka berada.

Beberapa posting masih akan dilanjutkan dengan beberapa bagian lagi seperti “Mimpi yang memanggil untuk menjadi the next masyumi”, berdasarkan statistik blog meski relatif baru ditampilkan namun tulisan bertajuk “Yusril ‘chengho’ Ihza Mahendra dan Komunitas Blogger Bulan Bintang” mendapatkan klik terbanyak dari para peselancar blog menyusul tulisan berjudul “Konspirasi para penebar virus anti syariah”, sementara untuk tulisan dengan komentar terbanyak masih ditempati tulisan berjudul “Partai Bulan Bintang luncurkan situs baru” disusul “Partai Bulan Bintang kembar identik dengan Partai Bintang Bulan”, fakta – fakta ini menujukkan bahwa keberadaan situs, blog ataupun media informasi yang khusus bagi keluarga besar bulan bintang masih dirasakan menjadi sebuah kebutuhan penting utamanya ditengah pergolakan dan peperangan media yang lebih banyak memberikan penggambaran negatif dan pemberitaan yang tidak fair mengenai bulan bintang juga terhadap para tokoh dan politisinya.

Bulan Bintang Media juga menyampaikan ucapan terimakasih atas dukungan yang tak henti – hentinya mengalir seperti dari Saudara Eko Hendra Wira di Kalimantan Barat, Bapak Ahmad Dahlan, SH anggota DPRD PBB Kab Alor – NTT, Mas Luthfi Maulana Pengurus DPC PBB Kota Tangerang, Bung Muh Ramdhan Kurniawan H. Bidu Sekretaris Umum DPC Partai Bintang Bulan Kab. Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah, Widhiyantoro, Adex, Cokk, Granius abacha, Lukita, Sujono, Rusdianto, Raihan, Jamaluddin, Rahmat Hidayat, Aditya Ghozali, dan semua peselancar Bulan Bintang Media yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Secara khusus pada kesempatan ini saya sampaikan rasa hormat dan terimakasih sebesar besarnya kepada Bang Eddie Tarigan, Kreator Situs Resmi Partai Bulan Bintang (http://www.pbb-info.com) atas kontak dan dukungannya selama ini, juga tidak ketinggalan Bang Yusril Ihza Mahendra (http://yusril.ihzamahendra.com) yang memberi inspirasi dan semangat bagi tumbuhnya blogger – blogger bulan bintang dalam membangun Media Komunikasi Keluarga Besar Bulan Bintang sebagai bagian dari perjuangan dan cita – cita besar untuk membangun Indonesia dengan Syariah.

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Iklan

MIMPI YANG MEMANGGIL UNTUK MENJADI THE NEXT MASYUMI(BAGIAN 2)

Jejak Panjang Perjuangan Masyumi untuk ummat dan bangsa tidak bisa begitu saja dihapuskan, di era kekinian Masyumi tetap menjadi inspirasi paling aktual dan relevan bagi dunia kepartaian dan perpolitikan di tanah air.
Masyumi lahir dari ide besar yakni Islamic Modernization, sebagai partai ia bisa dibubarkan tetapi sebagai ide besar ia akan tetap muncul dalam bentuk yang lain.

bulan-bintang-dan-bintang-bulan-di-tahun-1955.jpg

Nostalgia kebesaran Masyumi memang tetap terasa hingga saat ini, penulis banyak menjumpai para orang tua di desa – desa yang menjadi saksi hidup sistem multi partai pada pemilu 1955, mereka masih bisa menggambarkan bagaimana hangatnya persaingan diantara partai – partai saat itu, kontestansi partai politik yang besar mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat yang hampir semua larut dalam euphoria demokrasi yang meluap –luap, itulah Pesta Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang pertama dan terbesar pasca kemerdekaan.

 

Diantara saksi – saksi hidup itu kebanyakan masih bisa menghafal Hymne/Mars Partai Masyumi yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut :

Bismillah mari kita memilih
Lambang Bulan Bintang Putih
Atas Dasar Hitam nan Bersih
Tanda Gambar Masyumi

Partai Berjasa Nusa dan Bangsa
Demi Setia Agama
Partai Berjasa Nusa dan Bangsa
Demi Setia Agama

 

Menurut salah seorang saksi menjelang akhir tahun 50-an kekuatan Nasakom yang melingkari kekuasaan Bung Karno semakin besar bahkan PKI terus menerus mencari jalan untuk lebih dekat lagi dan menguatkan posisinya di pusat kekuasaan, Pada sisi yang lain Masyumi yang menjadi oposisi loyal dan sering memperingatkan bung karno akan ancaman bahaya laten komunisme yang anti tuhan tak urung menjadi target fitnah dan target “untuk dihabisi” secara politik.

Penulis mendengar penuturan para saksi sejarah dengan seksama bahwa saat itu suhu politik meninggi terasa hingga ke desa – desa, penggalangan massa dalam bentuk mimbar- mimbar bebas diadakan oleh kader – kader PKI yang mengaku sebagai barisan penyelamat soekarno, biasanya mereka membuka orasinya dengan slogan – slogan sebagai berikut :

Merdeka !!!

Hidup Bung Karno !!!

Hidup Nasakom !!!

Ganyang Masjumi !!!

 

Kuatnya sentimen anti Masyumi yang di produksi dan direproduksi itulah yang kelak bermuara dalam bentuk opsi pembubaran partai Masyumi, tidak lama berselang kekhawatiran Masyumi akhirnya terbukti, PKI melaksanakan Gestapu-nya dalam sebuah revolusi berdarah yang sarat diselimuti tebalnya “misteri” yang masih tersisa hingga hari ini.

Cendawan yang tumbuh di musim penghujan

 

Konon setelah berakhirnya periode Masyumi, Warga Bulan Bintang mengalami kevakuman politik namun beberapa saksi mengutip dan menggarisbawahi pesan Mr. Mohammad Natsir bahwa :

 

Keluarga Besar Bulan Bintang harus bisa hidup, berkarya dan berjuang dimana saja untuk kepentingan ummat, bangsa dan negara laksana cendawan yang tumbuh di musim penghujan.

 

Diskriminasi atas Masyumi pada masa rezim orde lama berlanjut dengan kebijakan politik rezim orde baru yang menolak merehabilitasi Partai Masyumi.

 

Menyikap hal ini Keluarga Besar Bulan Bintang terbagi dalam tiga kelompok.

  1. Pertama, kelompok yang beralih ke gerakan dakwah dan mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dengan M. Natsir, Muhammad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Anwar Haryono dan Yunan Nasution sebagai tokoh sentralnya. Setelah dilarang untuk beraktifitas dalam dunia politik, mereka melihat celah lain untuk berkiprah di masyarakat, yakni dengan berdakwah.

  2. Kedua, kelompok yang tetap berada di wilayah politik dengan membentuk Par-musi (Partai Muslimin Indonesia), sebuah partai yang sengaja didirikan sebagai pengganti Masyumi dan direstui pemerintah Orde Baru.

  3. Ketiga, kelompok teknokrat yang lebih pragmatis. Mereka adalah bekas anggota dan simpatisan Masyumi dan mendapatkan karirnya melalui Golkar atau organisasi underbow-nya. Di luar ke-tiga kelompok ini, terdapat juga sekelompok kecil anggota dan simpatisan Masyumi yang terlibat dalam gerakan Islam radikal seperti NII.

 

Tekanan yang besar terhadap gerakan Islam Politik oleh dominasi politik kekuasaan menjadikan keluarga besar bulan bintang lebih fokus bergiat dalam arus utama gerakan dakwah dengan DDII sebagai ujung tombaknya.
Menurut para saksi, sebagian dari kader masyumi ada yang memilih tetap bergiat di jalur politik, sebagian melanjutkan idealisme pergerakan dalam Parmusi yang pada akhirnya melebur dalam wadah PPP, sebagian lagi memilih berada dalam wadah Partai Golkar sebagai partai pemerintah karena disinyalir sebagai kekuatan politik terbesar anti PKI dan bahaya laten komunisme.

Apapun jalan politik dan pergerakan yang dipilih oleh keluarga besar bulan bintang pada awalnya dimaksudkan untuk mengisi kevakuman politik dan mencari format baru untuk menyalurkan aspirasi politik yang tersumbat kala itu, harapan dan cita – cita terbesar masihlah sama yakni muncul dan bangkitnya kembali the next Masyumi yang akan mempersatukan komponen – komponen perjuangan yang berserak – serak dalam satu wadah bersama.

(Penulis : Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Yusril “CHENGHO” Ihza Mahendra dan Komunitas Blogger Bulan Bintang

Bagi Penulis, Bang Yusril memang sosok yang langka, karirnya tidak sebatas sebagai akademisi dan politisi, karirnya tidak berhenti lantaran didepak dari kursi KIB oleh sebuah “konspirasi”, karir bang yusril justru berlanjut sebagai seorang aktor yang mampu memerankan Laksamana Chengho, seorang bahariwan agung dari Tiongkok dalam sebuah serial Film Televisi berjudul “Admiral Zheng He” , kali ini profesinya bertambah satu lagi yakni menjadi Blogger seperti yang bisa kita lihat di http://yusril.ihzamahendra.com dan http://mahendra-ihza-yusril.blogspot.com

 

yusril-chengho-ihza-mahendra2.jpg

Blog dan Rumah Terbuka (open house)

 

Langkah Bang Yusril nge-blog ternyata ditanggapi secara positif oleh banyak pihak, utamanya komunitas blogger yang langsung menyerbu blog-nya dan memberikan dukungan, pesan dan komentar. Blog bang yusril ibarat rumah terbuka (open house), siapapun bisa datang dan berinteraksi dan melalui blog itu pula masyarakat dan komunitas blogger bisa melihat sisi – sisi lain bang yusril yang selama ini jarang di ungkap oleh media.

 

Dalam perkenalan perdana di dunia blog yang diposting 1 November pukul 00.40 lalu, Yusril menulis:

 

“Atas saran beberapa sahabat yang saya kenal melalui blog, maka hari ini saya menciptakan blog saya, sebagai wahana komunikasi bertukar pikiran secara jernih, intelektual dan simpatik, atas dasar prinsip saling hormat-menghormati.”

“Melalui blog ini, saya ingin berbagai pemikiran, pengalaman dan gagasan, yang barangkali akan bermanfaat untuk menambah wawasan dalam menyikapi berbagai peristwa yang terjadi di sekitar kita. Apa yang saya ungkapkan, mungkin saja bersifat subyektif, karena didasarkan pada titik pandang, falsafah dan keyakinan keagamaan yang saya anut.”

 

Secepat Yusril Ihza Mahendra menulis blog pertamanya di blogger.com, tepat seratus blogger memberikan komentarnya. Tulisan-tulisan Yusril lainnya di http://www.vavai.com, priyadi.net, dan http://yulian.firdaus.or.id/ juga direspon positif kalangan blogger. Dan dalam beberapa hari, ratusan netters lainnya ramai “mengerubuti” sang blogger baru. Semula, Yusril hanya mengomentari sebuah postingan tentang film Laksamana Cheng Ho yang dilakoninya. Ujung ujungnya, mantan mensesneg itu didorong-bujuk-paksa – untuk membuat blog sendiri, yang ternyata langsung ramai disambut para bloggers.

 

Film Laksamana Cheng Ho dan Misi Perdamaian “Memadamkan kebencian Pribumi terhadap Etnis Tionghoa”.

 

Dalam Blognya Bang Yusril mencantumkan gambar adegan syuting film admiral Zheng He yang dibintanginya, dalam uraiannya seperti yang ditampilkan dalam beberapa blog kawan blogger bang yusril, secara tersirat terungkap bahwa Film Laksamana Cheng Ho juga mengandung Misi Perdamaian yakni “Memadamkan kebencian Pribumi terhadap Etnis Tionghoa”.

“Sebagian Muslim Indonesia ada yang agak “benci” dengan etnis Cina di tanah air. Kebencian itu mungkin dipicu oleh politik kolonial Belanda yang membagi penduduk Hindia Belanda ke dalam tiga golongan, yakni Eropa, Timur Asing dan Inlander”.

 

Kelompok Timur Asing terbesar ialah etnis Cina. Mereka sengaja dijadikan sebagai kelompok “kelas menengah” yang mendapat dukungan untuk menguasai perdagangan. Oleh Belanda, etnis Cina dilarang tinggal di pemukiman Inlander. Untuk mereka disediakan lokasi khusus, yang kelak terkenal dengan sebutan Pecinan atau China Town.

Sebagian kebencian juga disebabkan adanya “pemihakan” oleh etnis Cina kepada Belanda, walau pernah juga etnis Cina memberontak di daerah Glodok, sehingga ribuan etnis Cina dibantai Belanda di abad 18.

 

Hal lain, juga disebabkan oleh keengganan peranakan Cina — akibat politik kolonial — berbaur dengan pribumi. Orang-orang Cina Muslim segenerasi dengan Cheng Ho, baik di Malaka maupun di Jawa dan Palembang, segera membaur dengan pribumi.Lama-kelamaan keberadaan mereka seolah lenyap ditelan sejarah karena telah menyatu dengan pribumi tadi.

 

Orang Cina Muslim, termasuk Cheng Ho, adalah penganut mazhab Hanafi. Namun lama-kelamaan karena berbaur, keturunan mereka juga mengikuti mazhab Syafii, yang dominan di Asia Tenggara. Tidak ada perbedaan prinsipil antara kedua mazhab hukum Islam itu.
Namun, “kebencian” pribumi Muslim dengan etnis Cina tidaklah merata. Di Bangka Belitung, mereka bersatu dan tidak pernah terjadi konflik. Orang Cina dalam jumlah besar, sudah ada di Bangka-Belitung sejak Dinasti Sung, kira-kira 200 tahun sebelum Cheng Ho (dari Dinasti Ming). Bahkan, berbagai keramik dari zaman Dinasti Tang (abad 6-9 M) sudah ditemukan di tanah maupun laut sekitar Belitung …

 

Blog : Jurnalistik Independen

Blog ternyata merupakan media jurnalistik dengan pemberitaan yang lebih fair dan original, sangat berbeda dengan media-media pada umumnya yang masih sering terjebak dalam konflik kepentingan tertentu.

Seorang Blogger bernama Adji Wigjoteruna memberikan tanggapannya:

 

Saya kebetulan baca komen-komen baca di-blognya Jay. Ternyata banyak info mengenai pikiran dan pendapat Bapak (Yusril) yang selama ini tidak diketahui oleh publik. Saya setuju dengan pendapat Bapak bahwa media massa [Indonesia] seringkali tidak fair dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, masing-masing media ternyata memang memiliki ‘kepentingan-kepentingan’ tertentu.

 

Pernyataan senada tentang perlunya independensi media juga banyak disampaikan oleh para blogger seperti halnya komentar seorang blogger pada tulisan Masalah “Uang Tommy” di Bank Paribas (komentar #9) :

 

diluar konteks di atas…. saya sendiri melihat banyak hal simple di blow-up sampai jadi berita besar….. sedangkan berita besar ditekan habis hingga tak bergema……. saya gak tau siapa & apa yang menyebabkan ini…… apakah wartawannya, Redaksi atau owner pemilik media….mudah2an blog bisa membuat warna lain deri kebenaran dan keseimbangan berita……..

 

Para Blogger dan Komunitas Blogger memang selalu menyediakan ruang terbuka untuk diskusi publik bagi setiap tulisan yang di posting sehingga partisipasi publik yang berhasil dijaring merupakan potensi yang besar untuk memperkaya sebuah tulisan dan fakta yang diungkapkan melalui media.

 

Komunitas Blogger Bulan Bintang

 

Berikut ini hasil posting bang yusril melalui blog-nya :

 

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAG III), 14 Desember 2007
KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAG II), 13 Desember 2007
KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAG I), 6 Desember 2007
HUKUM ISLAM & PENGARUHNYA TERHADAP HUKUM NASIONAL INDONESIA, 5 Desember 2007
MASALAH “UANG TOMY” DI BANK PARIBAS, 30 November 2007
ETIKA, INTELEKTUALISME DAN PROPAGANDA, 24 November 2007

 

Dalam Blog-nya Bang Yusril juga menjawab kontroversi mengenai “Uang Tommy di BNP Paribas”, penjelasan bang yusril sepanjang 33 Alinea itu disampaikan dengan sangat terbuka, komprehensif dan secara “khas”, umumnya tanggapan positif diberikan atas klarifikasi ini bahkan tak urung banyak pula berbagai pihak yang mengharap klarifikasi serupa atas “pemberitaan yang tidak fair” mengenai AFIS, Resuffle Jilid II , Koalisi Tiga Kaki Pada Pilpres 2004, dan tema – tema besar yang selama ini menggelinding di media secara sepihak dan sangat tidak berimbang.

 

Keseriusan bang yusril sebagai seorang blogger menjadi inspirasi dan menyisakan jejak yang perlu diikuti oleh keluarga besar bulan bintang terutama yang selama ini bergiat di medan “pergolakan” media. Selain para politisi bulan bintang yang pernah meluncurkan website seperti Bang Hamdan Zoelva, Bang Ahmad Sumargono, Bang Erry Ridwan Latief dan belakangan ini Bang Ali Mochtar Ngabalin, keberadaan blog juga sangat memberi manfaat bagi menyampaikan pesan – pesan moral, fakta – fakta dakwah dan pergerakan serta mensosialisasikan tema – tema penting seputar kebangsaan dan keislaman secara terbuka.

 

Meningkatnya Kesadaran Blogging dan mengakses media di kalangan keluarga besar bulan bintang merupakan modal untuk membangun eksistensi komunitas keluarga besar bulan bintang sebagai komunitas yang tidak hanya pantas diperhitungkan di percaturan politik nusantara melainkan juga sebagai komunitas modern yang eksis di jagad maya, juga sebagai komunitas blogger yang terus bergelora menyeru akan indahnya syariah dan semangat untuk tetap memperjuangkannya dari masa ke masa.

(Penulis: Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Sumber :

http://yusril.ihzamahendra.com

http://www.kompas.com

http://satrioarismunandar.multiply.com

MIMPI YANG MEMANGGIL UNTUK MENJADI THE NEXT MASYUMI(BAGIAN 1)

Gerbang Kemerdekaan Indonesia pada akhirnya terbuka juga atas berkat Rahmat Allah SWT sebagai klimaks dan titik puncak (kulminasi) perjuangan setelah bangsa dan anak bangsa ini mengalami fase – fase panjang mempertaruhkan jiwa raga demi satu kata MERDEKA. Jadi tidaklah benar jika kemerdekaan ini merupakan hadiah dari jepang, yang benar propaganda jepang sebagai pemimpin asia dan saudara tua disertai pula dengan janji me-merdekakan bangsa asia termasuk Indonesia dari penjajahan bangsa eropa dan sekutunya.

 

Sementara para pemimpin pergerakan termasuk diantaranya Kyai Haji Mas Mansur yang tergabung dalam empat serangkai bersama dengan Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta dan Ki Hajar Dewantoro secara terus menerus mengobarkan semangat perlawanan rakyat untuk perjuangan kemerdekaan dengan membentuk PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), perlawanan yang gigih ditunjukkan oleh laskar – laskar hizbullah dan laskar – laskar pembela tanah air, juga serangkaian jalan panjang diplomasi akhirnya berbuah manis dengan berdirinya milisi peta (cikal bakal TNI), berdirinya satu wadah kekuatan ummat Islam MASJUMI (cikal bakal Partai MASJUMI) dan lahirnya badan – badan lain yang dibentuk sebagai upaya untuk mempersiapkan Indonesia Merdeka (BPUPKI dan PPKI).

 

peta-dan-bulan-bintang.jpg

 

Bukti besarnya peran ummat Islam dalam membidani kemerdekaan terlihat jelas dari bendera tentara PETA yang juga mencantumkan lambang bulan dan bintang yang banyak diasumsikan sebagai simbol perjuangan ummat Islam.

 

Bulan Bintang sebagai simbol perjuangan

Lambang bulan bintang dalam masyarakat Islam pada umumnya mengesankan sebagai simbol Islam meskipun tidak bisa diingkari bahwa tidak menutup kemungkinan adanya tafsir yang berbeda terhadap simbol dan lambang bulan bintang tersebut. Simbol bulan bintang di masa lalu pernah digunakan sebagai tanda gambar Sarekat Islam sebagai cikal bakal Pergerakan Islam dan pernah pula digunakan sebagai tanda gambar Partai Masyumi yang merupakan cikal bakal Pergerakan Islam Modern.

 

Di era kembalinya kebebasan berpartai politik pasca reformasi tahun 1998, terdapat setidaknya 48 partai politik sebagai kontestan pada pemilu 1999 dan 4 diantaranya menggunakan simbol bulan bintang diantaranya Partai Bulan Bintang pimpinan Prof Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., Partai Ummat Islam yang dipimpin oleh Prof Deliar Nur dan Prof Harun Al Rasyid, Partai Masyumi Baru yang diketuai oleh Bung Ridwan Saidi (politisi senior PPP) dan Partai Persatuan Islam Masyumi yang didirikan oleh Abdullah Hehamahua (mantan ketua PB HMI).
Terlepas dari proses pendirian dan seberapa besar tingkat adopsi terhadap ide besar Islamic Modernization yang pernah sukses diperankan Partai Masyumi, realitas politik menunjukkan bahwa diantara empat partai penerus Masyumi, Partai Bulan Bintang mampu menampilkan diri sebagai partai yang paling ideal dan representatif dengan raihan suara yang menembus ET dan menduduki peringkat ke-6 diantara 48 kontestan.

 

Penggunaan simbol bulan bintang sesungguhnya merupakan bukti terpeliharanya kesinambungan perjuangan ummat Islam sejak berabad – abad lampau, bagi PBB seperti diuraikan oleh Bang Yusril dalam buku berjudul yang diterbitkan oleh Global Publika, penggunaan simbol bulan bintang juga dimaksudkan :

 

Agar kita dengan segera bisa memanggil jamaah kita sehingga kita tidak sulit mensosialisasikan partai baru ini ke tengah – tengah masyarakat. Ini karena tidak semua masyarakat kita berpendidikan tinggi.

Bagi masyarakat kita, simbol menjadi hal yang penting, karena itu kami memutuskan menggunakan simbol bulan bintang dan kita namakan dengan Partai Bulan Bintang.
(“membangun Indonesia yang demokratis dan berkeadilan” hal 33-34)

 

Penulis mendapati sejumlah fakta mengenai penggunaan simbol bulan bintang ini, pada pemilu 1999 di sejumlah wilayah seperti di beberapa kawasan di lereng semeru terdapat para pemilih yang mencoblos tanda gambar bernomor 21 yakni logo bulan bintang berwarna putih diatas dasar hitam sebagaimana tanda gambar Masyumi, bahkan ada dibeberapa TPS yang jumlahnya lumayan besar, sayangnya suara – suara tersebut hangus lantaran kepengurusan Partai bernomor 21 tersebut samasekali belum sampai ke kabupaten tersebut. Fakta ini Menarik untuk dicermati karena disamping nomor urut 21 adalah PBB dengan nomor urut 22 sementara sosialisasi partai yang relatif singkat ditambah keterbatasan akses informasi dan media menjadikan masyarakat khususnya generasi tua lebih cenderung memilih atas dasar selera yang masih kuat dipengaruhi oleh nostalgia masyumi yang memang legendaris itu.

 

Partai Bulan Bintang, sebagaimana dikatakan Pak Anwar Harjono, adalah partai yang diharapkan dipimpin oleh kaum muda, di-support oleh kaum muda, dan direstui oleh kaum tua di tengah – tengah masyarakat ini.
Keberadaannya sangat diharapkan oleh keluarga besar bulan bintang untuk bisa mewujudkan kembali wajah politik yang sejuk dan bermanfaat bagi rakyat serta diharapkan mampu tampil sebagai kekuatan yang diharapkan bisa menjadi the next masyumi. (Bersambung)

(Penulis : Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

KONSPIRASI PARA PENEBAR VIRUS ANTI SYARIAH

100.gif

Grafik hasil Survey LSI : Partai Apa yang dipilih jika pemilu dilaksanakan hari ini ?

 

Gerakan Islam Syariah telah di-amini oleh kalangan sekularis sebagai gerakan fundamentalis yang harus dibabat habis, kenyataan ini banyak tercermin dari upaya – upaya sinergi yang terus digalang untuk melanggengkan sekularisasi dan menguatkan arus perlawanan atas islam politik. RUU Partai Politik yang dibahas dan disetujui di Parlemen menyisakan ganjalan berarti bagi 5 Fraksi yang berasal dari Partai Politik berbasis massa Islam, hal tersebut lantaran adanya konspirasi politik dan upaya – upaya sistematis untuk meng-gaungkan kembali asas tunggal dengan nostalgia pengebirian aspirasi politik ummat Islam lewat jargonnya yang terkenal “ Islam Yes …Politik No”.

Agenda de-politisasi ummat Islam ini ternyata juga disertai proses produksi dan reproduksi virus – virus anti syariah yang menyebar dengan berbagai cara, menyebar di berbagai media dan menyebar dengan sangat halus pula.

Para sekularis terus menerus menggencarkan “resource mobilization” dengan dukungan jaringan, sumber daya manusia, dan dana yang memadai. Bagi mereka pada dasarnya bukan “nilai” itu sendiri yang penting, tapi kepemimpinan, jaringan, sumber daya manusia, dan dana yang dapat membuat nilai-nilai tersebut “bergerak” dan menjelma sebagai kekuatan politik. Dalam perspektif ini kegagalan manifestasi nilai-nilai Islam dari kalangan Islam politik ditengarahi akibat tidak berkembangnya mobilisasi sumberdaya bagi manifestasi nilai-nilai Islamis tersebut.

Seiring gencarnya “resource mobilization” atas nilai – nilai sekuler, politik belah bambu masih menjadi media yang efektif untuk membentrokkan sesama kekuatan politik berbasis massa Islam sehingga tetap terkotak – kotak dan tidak akan pernah menjelma menjadi sebuah kekuatan aliansi yang kuat dan strategis di parlemen, walhasil jika hal ini diabaikan oleh ummat Islam dan para elite politiknya maka ummat Islam tidak akan pernah satu suara khususnya dalam upaya penegakan syariah dan itu berarti Belanda dan para sekularis penerusnya telah berhasil menanamkan virus – virus politiknya yang sekuler.

Berhala itu bernama Survey dan LSI

Jejak Pendapat melalui survey kini semakin akrab bagi para penikmat media dan tentu bisa dibayangkan berapa banyak orang yang terpengaruh dengan hasil atau fakta yang diungkap melalui metode jejak pendapat tersebut.

Banyak sekali opini yang terlanjur berhembus dan berkembang bahwa “Survey telah menjadi patokan rasionalitas” sehingga banyak orang yang kemudian merujuk hasil survey sebelum membuat sebuah keputusan dan menetapkan sebuah pilihan.

Membincangkan survey belum lengkap rasanya jika tidak menyebut dua lembaga survey bernama LSI yakni Lembaga Survey Indonesia yang dipimpin Syaiful Mujani dan Lingkaran Survey Indonesia yang diketuai oleh Denny JA, keduanya adalah doktor Ilmu Politik Alumnus Ohio State University (OSU), sama – sama murid Bill Liddle yang merupakan ahli tentang perpolitikan Indonesia yang paling terkemuka di Amerika.

Diakui atau tidak, pola konsumsi dan warna politik masyarakat kita masih lebih condong mengikuti arus besar yakni mengikuti trend dan kecenderungan yang menguat yang sebenarnya turut diproduksi dan dipublikasi oleh media.
Diakui atau tidak, di era kebebasan informasi kini apa yang ditampilkan oleh media cenderung bisa merangsang minat dan apresiasi masyarakat, terlebih jika media itu mengungkapkan fakta – fakta penting dengan melibatkan data statistik, masyarakat yang pada awalnya belum memiliki bayangan, pandangan atau pilihan tiba – tiba bisa menjadi “cerdas” dalam sekejap dan menjadi ter”yakin”kan untuk menentukan sebuah pilihan,

Apa yang dilakukan oleh LSI lebih dari uraian diatas, Direktur Eksekutif Lingkaran Survei (LSI), Denny JA mengatakan :

 

“Dia telah membantu sekitar 200 proyek pemenangan pilkada, mulai dari Aceh hingga Papua, yakni dengan 25 pilkada gubernur dan 200 pilkada bupati. Hasilnya, 92 persen pasangan yang menjadi kliennya dapat memenangkan pilkada.

”Kalau hanya sekedar survei mengenai posisi seorang calon kepala daerah, memang masih mudah. Menjadi sangat sulit ketika calon itu kemudian minta dibantu supaya bisa menang dalam pilkda,” kata Denny.

Dalam kompetisi politik massa kini, memang LSI menjadi salah satu ikon penting. Posisinya tak ubahnya menjadi ‘dukun politik’. Kantornya yang prestisius di kawasan Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, setiap hari selalu penuh dengan tamu yang yang ngebet jadi kepala daerah.
Sumber: (Jadi ‘Dukun Politik’ Lewat Metode Survei) Republika, 27 Februari 2007

Apa yang dilakukan oleh LSI pimpinan Syaiful Mujani bahkan lebih jauh lagi, rangkaian hasil survey yang diungkap ke publik melalui media disertai balutan – balutan opini yang secara halus dibangun dan jika seksama diperhatikan ternyata memiliki keberpihakan atas kepentingan – kepentingan politik tertentu khususnya bagi kepentingan sekularasisasi dan liberalisasi agama, terbukti syaiful mujani ternyata juga kolumnis khusus di website resmi yang dikelola oleh Jaringan Islam Liberal, beberapa tulisannya antara lain : Syariat Islam dan Keterbatasan Demokrasi, Pelajaran dari Parlemen Syariat, dll.

Berikut kutipan tulisan – tulisan Syaiful Mujani :

 

Dalam sejarah tidak ada negara Islam, yakni kehidupan warga di dalamnya diatur dengan hukum Islam, yang dibangun secara demokratis. Semuanya dengan perang atau revolusi. Pemerintahan Aceh yang akan memberlakukan hukum Islam itu adalah kasus baru. Ia dibangun oleh anggota parlemen yang merupakan hasil pemilu demokratis 2004. Demokrasi memang dapat melumpuhkan nilai-nilai demokrasi yang fundamental seperti faham negara sekuler dan pluralisme internal kehidupan keagamaan bila jatuh di tangan wakil-wakil rakyat yang miskin nilai-nilai demokrasi tersebut. Demokrasi kita ternyata masih miskin kaum demokrat.
(Sumber : JIL – Pelajaran Dari Parlemen Syariat)

Demokrasi punya keterbatasan untuk menampung semua aspirasi primordial yang antagonistik itu. Demokrasi tidak punya kekuatan yang cukup untuk mengakomodasi kekuatan mayoritas primordial agar norma-norma primordialnya diberlakukan sebagai kebijakan publik yang ditegakkan negara, misalnya lewat lembaga pengadilan dan kepolisian.

Keterbatasan demokrasi ini harus disadari oleh kelompok demokrat dan kelompok politik syari’ah yang memperjuangkan aspirasi politiknya di jalur demokrasi. Demokrasi tidak akan mampu mewadahi kekuatan yang akan membunuh demokrasi itu sendiri.
(Sumber : JIL – Syariat Islam dan Keterbatasan Demokrasi)

 

Lembaga Survey Indonesia secara khusus mengadakan survey tentang tema – tema khusus sebagaimana dimuat dalam situsnya di http://www.lsi.or.id , beberapa diantaranya adalah :

  • Islam dan Demokrasi

  • Sikap publik terhadap penerapan Syariat Islam

  • Trend Dukungan Nilai Islamis versus Nilai Islamis di Indonesia

  • Parpol Islam Kian Terpuruk

97.gif

 

Khusus mengenai nilai – nilai syariah yang dijajaki dengan metode survey, LSI secara sengaja menyempitkan dan membatasi aplikasi nilai syariah hanya secara parsial seperti hukum potong tangan, hukum rajam, polisi jilbab, polisi muhrim, bunga bank dan larangan bagi perempuan untuk menjadi presiden, pembahasan mengenai tema – tema inipun tidak disertai penggambaran yang utuh dan memadai tentang hal – hal yang menjadi semangat dan esensi dari aplikasi nilai syariah tersebut, seolah – olah survey yang dilaksanakan memang di desain untuk membentuk opini publik agar apriori dan antipati terhadap penerapan nilai syariah dalam kehidupan modern.

Keberadaan LSI jika dicermati sesungguhnya merupakan bagian dari sebuah konspirasi untuk menebarkan virus – virus anti syariah dan Gerakan Islam Politik dengan menghembus-hembuskan libelarisasi dan sekularisasi dalam berbagai rancangan bentuk yang secara sistematis di produksi untuk mempengaruhi ummat dan bangsa ini agar jalan di tempat dengan proses islamisasi.

Wallahu’alam (Penulis : Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media )