KONSPIRASI PARA PENEBAR VIRUS ANTI SYARIAH

100.gif

Grafik hasil Survey LSI : Partai Apa yang dipilih jika pemilu dilaksanakan hari ini ?

 

Gerakan Islam Syariah telah di-amini oleh kalangan sekularis sebagai gerakan fundamentalis yang harus dibabat habis, kenyataan ini banyak tercermin dari upaya – upaya sinergi yang terus digalang untuk melanggengkan sekularisasi dan menguatkan arus perlawanan atas islam politik. RUU Partai Politik yang dibahas dan disetujui di Parlemen menyisakan ganjalan berarti bagi 5 Fraksi yang berasal dari Partai Politik berbasis massa Islam, hal tersebut lantaran adanya konspirasi politik dan upaya – upaya sistematis untuk meng-gaungkan kembali asas tunggal dengan nostalgia pengebirian aspirasi politik ummat Islam lewat jargonnya yang terkenal “ Islam Yes …Politik No”.

Agenda de-politisasi ummat Islam ini ternyata juga disertai proses produksi dan reproduksi virus – virus anti syariah yang menyebar dengan berbagai cara, menyebar di berbagai media dan menyebar dengan sangat halus pula.

Para sekularis terus menerus menggencarkan “resource mobilization” dengan dukungan jaringan, sumber daya manusia, dan dana yang memadai. Bagi mereka pada dasarnya bukan “nilai” itu sendiri yang penting, tapi kepemimpinan, jaringan, sumber daya manusia, dan dana yang dapat membuat nilai-nilai tersebut “bergerak” dan menjelma sebagai kekuatan politik. Dalam perspektif ini kegagalan manifestasi nilai-nilai Islam dari kalangan Islam politik ditengarahi akibat tidak berkembangnya mobilisasi sumberdaya bagi manifestasi nilai-nilai Islamis tersebut.

Seiring gencarnya “resource mobilization” atas nilai – nilai sekuler, politik belah bambu masih menjadi media yang efektif untuk membentrokkan sesama kekuatan politik berbasis massa Islam sehingga tetap terkotak – kotak dan tidak akan pernah menjelma menjadi sebuah kekuatan aliansi yang kuat dan strategis di parlemen, walhasil jika hal ini diabaikan oleh ummat Islam dan para elite politiknya maka ummat Islam tidak akan pernah satu suara khususnya dalam upaya penegakan syariah dan itu berarti Belanda dan para sekularis penerusnya telah berhasil menanamkan virus – virus politiknya yang sekuler.

Berhala itu bernama Survey dan LSI

Jejak Pendapat melalui survey kini semakin akrab bagi para penikmat media dan tentu bisa dibayangkan berapa banyak orang yang terpengaruh dengan hasil atau fakta yang diungkap melalui metode jejak pendapat tersebut.

Banyak sekali opini yang terlanjur berhembus dan berkembang bahwa “Survey telah menjadi patokan rasionalitas” sehingga banyak orang yang kemudian merujuk hasil survey sebelum membuat sebuah keputusan dan menetapkan sebuah pilihan.

Membincangkan survey belum lengkap rasanya jika tidak menyebut dua lembaga survey bernama LSI yakni Lembaga Survey Indonesia yang dipimpin Syaiful Mujani dan Lingkaran Survey Indonesia yang diketuai oleh Denny JA, keduanya adalah doktor Ilmu Politik Alumnus Ohio State University (OSU), sama – sama murid Bill Liddle yang merupakan ahli tentang perpolitikan Indonesia yang paling terkemuka di Amerika.

Diakui atau tidak, pola konsumsi dan warna politik masyarakat kita masih lebih condong mengikuti arus besar yakni mengikuti trend dan kecenderungan yang menguat yang sebenarnya turut diproduksi dan dipublikasi oleh media.
Diakui atau tidak, di era kebebasan informasi kini apa yang ditampilkan oleh media cenderung bisa merangsang minat dan apresiasi masyarakat, terlebih jika media itu mengungkapkan fakta – fakta penting dengan melibatkan data statistik, masyarakat yang pada awalnya belum memiliki bayangan, pandangan atau pilihan tiba – tiba bisa menjadi “cerdas” dalam sekejap dan menjadi ter”yakin”kan untuk menentukan sebuah pilihan,

Apa yang dilakukan oleh LSI lebih dari uraian diatas, Direktur Eksekutif Lingkaran Survei (LSI), Denny JA mengatakan :

 

“Dia telah membantu sekitar 200 proyek pemenangan pilkada, mulai dari Aceh hingga Papua, yakni dengan 25 pilkada gubernur dan 200 pilkada bupati. Hasilnya, 92 persen pasangan yang menjadi kliennya dapat memenangkan pilkada.

”Kalau hanya sekedar survei mengenai posisi seorang calon kepala daerah, memang masih mudah. Menjadi sangat sulit ketika calon itu kemudian minta dibantu supaya bisa menang dalam pilkda,” kata Denny.

Dalam kompetisi politik massa kini, memang LSI menjadi salah satu ikon penting. Posisinya tak ubahnya menjadi ‘dukun politik’. Kantornya yang prestisius di kawasan Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, setiap hari selalu penuh dengan tamu yang yang ngebet jadi kepala daerah.
Sumber: (Jadi ‘Dukun Politik’ Lewat Metode Survei) Republika, 27 Februari 2007

Apa yang dilakukan oleh LSI pimpinan Syaiful Mujani bahkan lebih jauh lagi, rangkaian hasil survey yang diungkap ke publik melalui media disertai balutan – balutan opini yang secara halus dibangun dan jika seksama diperhatikan ternyata memiliki keberpihakan atas kepentingan – kepentingan politik tertentu khususnya bagi kepentingan sekularasisasi dan liberalisasi agama, terbukti syaiful mujani ternyata juga kolumnis khusus di website resmi yang dikelola oleh Jaringan Islam Liberal, beberapa tulisannya antara lain : Syariat Islam dan Keterbatasan Demokrasi, Pelajaran dari Parlemen Syariat, dll.

Berikut kutipan tulisan – tulisan Syaiful Mujani :

 

Dalam sejarah tidak ada negara Islam, yakni kehidupan warga di dalamnya diatur dengan hukum Islam, yang dibangun secara demokratis. Semuanya dengan perang atau revolusi. Pemerintahan Aceh yang akan memberlakukan hukum Islam itu adalah kasus baru. Ia dibangun oleh anggota parlemen yang merupakan hasil pemilu demokratis 2004. Demokrasi memang dapat melumpuhkan nilai-nilai demokrasi yang fundamental seperti faham negara sekuler dan pluralisme internal kehidupan keagamaan bila jatuh di tangan wakil-wakil rakyat yang miskin nilai-nilai demokrasi tersebut. Demokrasi kita ternyata masih miskin kaum demokrat.
(Sumber : JIL – Pelajaran Dari Parlemen Syariat)

Demokrasi punya keterbatasan untuk menampung semua aspirasi primordial yang antagonistik itu. Demokrasi tidak punya kekuatan yang cukup untuk mengakomodasi kekuatan mayoritas primordial agar norma-norma primordialnya diberlakukan sebagai kebijakan publik yang ditegakkan negara, misalnya lewat lembaga pengadilan dan kepolisian.

Keterbatasan demokrasi ini harus disadari oleh kelompok demokrat dan kelompok politik syari’ah yang memperjuangkan aspirasi politiknya di jalur demokrasi. Demokrasi tidak akan mampu mewadahi kekuatan yang akan membunuh demokrasi itu sendiri.
(Sumber : JIL – Syariat Islam dan Keterbatasan Demokrasi)

 

Lembaga Survey Indonesia secara khusus mengadakan survey tentang tema – tema khusus sebagaimana dimuat dalam situsnya di http://www.lsi.or.id , beberapa diantaranya adalah :

  • Islam dan Demokrasi

  • Sikap publik terhadap penerapan Syariat Islam

  • Trend Dukungan Nilai Islamis versus Nilai Islamis di Indonesia

  • Parpol Islam Kian Terpuruk

97.gif

 

Khusus mengenai nilai – nilai syariah yang dijajaki dengan metode survey, LSI secara sengaja menyempitkan dan membatasi aplikasi nilai syariah hanya secara parsial seperti hukum potong tangan, hukum rajam, polisi jilbab, polisi muhrim, bunga bank dan larangan bagi perempuan untuk menjadi presiden, pembahasan mengenai tema – tema inipun tidak disertai penggambaran yang utuh dan memadai tentang hal – hal yang menjadi semangat dan esensi dari aplikasi nilai syariah tersebut, seolah – olah survey yang dilaksanakan memang di desain untuk membentuk opini publik agar apriori dan antipati terhadap penerapan nilai syariah dalam kehidupan modern.

Keberadaan LSI jika dicermati sesungguhnya merupakan bagian dari sebuah konspirasi untuk menebarkan virus – virus anti syariah dan Gerakan Islam Politik dengan menghembus-hembuskan libelarisasi dan sekularisasi dalam berbagai rancangan bentuk yang secara sistematis di produksi untuk mempengaruhi ummat dan bangsa ini agar jalan di tempat dengan proses islamisasi.

Wallahu’alam (Penulis : Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media )

Iklan

9 Tanggapan

  1. Apabila syariat kiamat yang wajib diikuti hukumnya oleh umat manusia datang hari ini, bagaimana nasibnya syariat islam menurut Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18. Sedang kiamat adalah habis gelap terbitlah terang benderang ilmu pengetahuan agama sesuai Al Qiyamah (75) ayat 5-15, Al Baqarah (2) ayat 257, Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22.
    Untuk jelasnya hal tersebut telah kami terbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 macam lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Perspsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. Kalau orang berbicara tenyang ayat quran, tafsir quran, setidaknya mereka paham tentang ilmu tafsir, menguasai bahasa arab, menguasai ilmu hadis, paham asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) paham ilmu fikih. Kalo sekedar bicara, maaf Ki Ganda Soeganda Gandakoesoema, kami tak butuh OMONG KOSONG!

  3. bagi ana virus anti syariah salah satunya yang adnan buyung yang berdiri melindungi ahmadiyah atas nama kebebasan beragama, buyung jadi virus pembisik sby sayangnya sby mau saja didikte sama itu buyung, ana yakin sby seperti buyung sulit untuk dipercaya rakyat

  4. Setuju, Adnan Buyung Nasution memang Biang keruwetan selama ini, ia seenaknya bilang MUI supaya dibubarkan karena mengeluarkan fatwa Ahmadiah. Penasehat Presiden itu mengejek-ejek salah seorang tokoh MUI yang tak lain koleganya sesama penasehat Presiden. Padahal dalam pandangan kelompok Islam ini, MUI harus dihormati karena merupakan kumpulan para ulama. Buyung beberapa kali menantang-nantang mereka dengan sangat emosional.
    Inikah sifat asli seorang pengacara terkenal berambut putih yang dulu banyak dipuji ?!?!

  5. Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 62-21-8573388

  6. Sebelum menggagas penerapkan syariat islam terlebih dahulu yang sifatnya general sebaiknya intropeksi terlebih dahulu terhadap anggota partai yang terbukti melakukan korupsi. penegakan hukum bukan hanya system apa yang dipakai, tetapi siapa yang menjalankanya. bukti hukum syariat yang digunakan di aceh lebih banyk diterapkan kepada orang miskin, pencuri, penjual miras kelas bawah tetapi para koruptor terbebas.

  7. saya tekankan kepada indonesia apabila indonesia tetap ingin menerapkan syariat islam di indonesia maka negri tersebut akan dilanda kerusuhan masal,perang sipil,dan disintegrasi massal yang akan memecah kekuatan republik indonesia secara keseluruhan dan pengurangan wilayah indonesia.
    ingat kalian telah menjajah wilayah-wilayah di timur seperti maluku dan papua yang dimana sebenarnya bukan wilayah indonesia. tetapi kalian akan kehilangan lebih banyak dari pada itu apabila kalian ingin tetap menerapkan syariat islam

    oh ia lupa toh nya kalian tetep tidak mampu menerapkan syariat islam padahal mayoritas penduduk adalah islam dan pejabat 100 % islam (karena pemimpin dan kekuasaan tinggi wajib islam). cuman bisa ngomong doang tetapi tidak dapat terapin syariat islam membuktikan bahwa kalian hannya omong kosong dan bukan ancaman berarti. kalian ternyata BUKAN APA-APA

    ha ha ha ha

    MERDEKA !!!!
    ANGKAT SENJATA UNTUK KEBEBASAN
    bebaskan tanah papua dari cengkraman penjajah indonesia dan islam

  8. baguslah kalo pemilu 2009 yang menang adalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: