TIDAK ADA YANG SIA – SIA, JANGAN SIA – SIAKAN KESEMPATAN

DPC PBB Kota Tangerang, Satukan Tekad – Suarakan Aspirasi Rakyat

PARTAI BULAN BINTANG lolos sebagai kontestan pemilu 2009 ! suara yang saya dengar dari kawan – kawan di DPC PBB Kota Tangerang. Beberapa teman melonjak dan berteriak, saya hanya tertegun dan menerawang, benarkah ? andaikan benar bagaimana dengan kelengkapan administrative PARTAI BINTANG BULAN yang lagi diupayakan untuk dilengkapi oleh DPAC –DPAC.

Saat itu kebetulan saya sedang menyusun tambahan rekapan KTA PARTAI BINTANG BULAN untuk dikirim ke DPW, bagaimana dengan DPAC yang harus bolak – balik ke kantor kecamatan untuk mengurus legalitas DPAC – nya dimana format yang sudah standard dikeluarkan oleh Depdagri ternyata tidak diketahui oleh aparat kecamatan ? sampai saya sedikit “ emosi “ karena surat edaran itu tidak tersosialisasi dengan baik akibatnya para Ketua PAC harus mondar – mandir ke kecamatan agar dapat memenuhi standar sesuai lampiran contoh Surat Edaran Mendagri.

Beberapa hari kemudian baru saya ketahui setelah mendapat informasi shahih bahwa benar PARTAI BULAN BINTANG lolos, bahagia dan terharu ketika partai yang dari tahun 1999 saya banggakan dan harapkan ini kembali eksis.

Drs. Sahar L Hassan dalam Kesempatan Mukercab DPC PBB Kota Tangerang

Kalau saya pernah mengatakan bahwa dalam rangka verifikasi PARTAI BINTANG BULAN melelahkan namun mengasyikkan maka kini timbul fikiran manusiawi saya dan teman – teman, berarti kemarin usaha kita sia – sia dong ? setelah siang dan malam kita bersama teman – teman DPAC berusaha memenuhi item – item verifikasi untuk status badan hukum dari Depkeh dan HAM semata – mata agar partai kita dapat eksis walaupun “ Cuma “ ganti kulit kini ternyata tanpa itu partai kita lolos juga ke Pemilu 2009.

Demi “membunuh “ perasaan – perasaan itu akhirnya saya katakan kepada teman – teman bahwa tidak ada sesuatu kebaikan yang sia – sia ketika sudah dikerjakan, terlepas ada pengakuan atau tidak. Jika niat kemarin adalah demi eksistensi sebuah wadah perjuangan bernama Partai Bulan Bintang atau Bintang Bulan sesungguhnya ini mengandung hikmah yang dalam agar kita jangan sekali – kali menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sekarang saatnya kita jaga bersama kesempatan ini agar jangan terulang seperti kemarin, kerahkan semua potensi diri dan jangan over confidence karena perjuangan harus melalui konsep dan kemauan untuk melaksanakannya.

Koalisi ABR kian meneguhkan Peran Politik Ummat Islam di Kota Tangerang

Imam Ali Rda pernah berkata :

“ Kejahatan yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir “

“jagalah perilaku yang menjadi cermin bahwa kita adalah kader Partai Bulan Bintang”,

(Rintisan Profil ini ditulis oleh Luthfi Maulana, DPC PBB Kota Tangerang)

Iklan

Revolusi Hijau Kebablasan Versus Reformasi “Hijau” Berkelanjutan

Image by Igan Lantang klik di http://www.pbb-info.com

Prahara ekonomi, sosial dan politik

Setiap zaman memang menemukan tantangannya sendiri, sebelum ini tepatnya dalam rentang tahun 1950 hingga 1960-an kita pernah mengalami sebuah fase kebangkrutan ekonomi tingkat tinggi, sampai – sampai muncullah fenomena “gunting syafrudin” yakni menggunting uang kertas menjadi dua dengan penyesuaian nilai untuk mengatasi devaluasi dan menekan inflasi, langkah brilliant Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai Menteri Keuangan (selanjutnya menjabat Gubernur Bank Indonesia pertama) kala itu menuai pujian dari dalam dan luar negeri namun badai krisis memang teramat dahsyat menerpa lantaran lemahnya fundamental ekonomi bangsa kita saat itu yang berimplikasi sosial dengan terjadinya kelangkaan minyak, lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat dan krisis pangan akut yang diperparah dengan carut marut tata kelola pemerintahan akibat memanasnya suhu politik sebelum akhirnya mencapai klimaknya pada akhir tahun 1965 dengan mengerasnya tiga tuntutan rakyat (TRITURA) yaitu Bubarkan PKI, Turunkan Harga dan Bersihkan kabinet (pemerintah) dari unsur – unsur PKI.

Revolusi Hijau

Pemerintahanpun berganti, krisis pangan yang melatarbelakangi tidak boleh terjadi dan dimulailah sebuah revolusi hijau dengan sebuah gengsi untuk membalikkan keadaan dari sebuah negera agraris pengimpor beras terbesar didunia beralih menjadi negeri dengan status “Swasembada”

Mesin – mesin revolusi hijau bekerja cepat melalui intensifikasi, diversifikasi hingga mekanisasi pertanian, saat itulah kita mengenal benih – benih unggul hibrida seperti IR dan sejenisnya yang secara “terhormat” menggeser benih – benih unggul lokal yang diklaim memiliki produktifitas tinggi, varietas unggul tahan wereng (VUTW) berhasil dibudidayakan dengan intensitas penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang lagi – lagi “secara terhormat” menggeser Pupuk Kandang, Pupuk Alami dan Pestisida Nabati yang sebelumnya menjadi tradisi pertanian lokal.

Mimpi Swasembada pangan memang pada akhirnya tercapai namun ledakan jumlah penduduk yang menurut Bung Haji Rhoma Irama mencapai angka fantastis 125 juta harus dikendalikan secara terpadu tidak saja dengan program Keluarga Berencana (KB) tetapi juga dengan sebuah proyek besar bernama Transmigrasi.

Buya Mohammad Natsir sangat menaruh harapan terhadap program ini menurut beliau kesenjangan pembangunan di luar Jawa salah satu faktornya adalah kurangnya sumber daya manusia yang selama ini terkonsentrasi di Pulau Jawa, Buya Natsir lewat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang dipimpinnya kemudian menerjunkan dai – dai muda potensial untuk disebar di daerah – daerah yang tertinggal.

Revolusi Hijau Kebablasan

Pembukaan lahan di berbagai pulau didukung dengan diterbitkannya sertifikat HPH (Hak Pengelolahan Hutan) yang dikantongi oleh sejumlah perusahaan rekanan pemerintah, ujung –ujungnya pembukaan hutan menjadi tidak terkendali, sejumlah pengusaha mengeksploitasi hutan demi memperkaya diri modusnya beragam namun secara garis besar berputar pada tiga hal yakni pembalakan liar, penyelundupan kayu ilegal dan perburuan satwa – satwa langka yang seharusnya dilindungi. Ketika itu LSM – LSM peduli lingkungan hidup seperti wahana lingkungan hidup Indonesia (Walhi) terus bersuara menentang eksploitasi hutan sebagai biang perusakan lingkungan hidup, mengganggu kelestarian habitat dan merusak keseimbangan ekosistem.

Episode Krisis pangan pada akhirnya menggulirkan banyak bola liar hingga akhirnya Revolusi Hijau banyak dinilai sebagai kebijakan besar dengan biaya tinggi dan ongkos sosial yang teramat mahal.

Reformasi Hijau Berkelanjutan

Belum lama menjabat, Menhut MS Ka’ban dituding sebagai biang kerusakan lingkungan hidup, padahal secara obyektif perusakan dan kerusakan lingkungan telah terjadi sejak lama melalui berkali – kali pergantian menteri kehutanan dan justru MSK-lah yang lantang dan istiqomah menyuarakan program penanaman sejuta pohon (belia menanam dewasa memanen), pemberantasan illegal logging hingga tuntas ke akar – akarnya dengan berkoordinasi dengan Jajaran Kepolisian RI dan Pemerintah Daerah, MSK tidak ketinggalan mengeluarkan Permenhut yang mengatur pembatasan izin HPH, pengelolaan HTI dan transparansi Konversi Hutan dengan melibatkan multipihak yang kompeten dengan persetujuan parlemen.

Ketika Walhi menuding dan menghujat langkah – langkah “Reformasi Hijau” MSK maka siapapun bisa menilai betapa Walhi telah kehilangan independensinya sebagai pejuang lingkungan hidup lantaran tidak bersedia diajak duduk bersama berdialog menuntaskan permasalahan lingkungan hidup yang tidak se-sederhana yang dibayangkan.

MSK melalui program “reformasi hijau” dengan keras menyatakan perang terhadap pengusaha – pengusaha nakal para eksploitir hutan, pembalak – pembalak dan penyelundup liar juga para pelaku perdagangan satwa – satwa langka nusantara.

MSK menggulirkan berbagai program “reformasi hijau” bukan semata – mata demi mengatasi pemanasan global namun demi menjaga Penghijauan Bumi Berkelanjutan karena hakikatnya Bumi, Air dan semua kekayaan Alam yang terkandung didalamnya harus dijaga agar bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya.

GO REFORMASI HIJAU

(Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Mari Kita Budayakan Saling Menghargai !!!

Budaya menghargai kini terus tumbuh dalam diri bangsa kita yang tengah bangkit , kita bisa menelusuri dengan lahirnya media – media penghargaan utamanya yang populer adalah anugerah dalam bentuk award. Sesungguhnya banyak cara untuk menggambarkan apresiasi tidak hanya dengan award, bagi para penulis blog atau blogger penghargaan bisa diberikan dengan mengapresiasinya dengan memberikan input dalam bentuk komentar, tanggapan atau semisalnya, tidak penting tanggapan itu Pro atau kontra melainkan kepedulian itulah yang menjadi indikator bahwa sebagai anak bangsa kita bisa saling mengisi dalam karya – karya yang produktif untuk bangsa.

Maarif award 2008 yang dikeluarkan oleh Maarif Institute pimpinan Prof. Dr. Achmad Syafii Maarif (Mantan Ketua PP Muhammadiyah) maupun Syariah Award yang digagas Partai Bulan Bintang sebagaimana award – award yang lain memiliki peran besar dalam menumbuhkan budaya positif untuk berkompetisi secara sehat, produktif mengikuti sebuah idiom yang lazim kita dengar sebagai FASTABIKUL KHOIROT.

Ada apa dengan GOSIP JALANAN SLANK dan FIlm FITNA ?!?!

Budaya saling menghargai inilah yang seharusnya lebih dikedepankan oleh Para Anggota Dewan di Senayan dalam menyikapi GOSIP JALANAN Karya SLANK, secara substantif atau materi kritik yang disampaikan harus tetap diserap terlepas itu bernada “sumbang” , hargailah bahwa itu bagian dari sebuah realitas dan potret dalam “membaca” kinerja anggota dewan, Janganlah kritikan tersebut dianggap tindakan “mencari popularitas” dari melecehkan sebab jika hal itu yang terlontarkan maka para slanker akan keras menimpali betapa tanpa itupun SLANK sudah cukup membumi di belantara musik negeri ini. Jalan tengahnya adalah dengan menghargai cara bertutur Slank yang memang selalu slenge’an dalam menghargai kinerja dewan yang katanya pembuat UUD (“Ujung – ujungnya Duit”),  Begitulah  caranya bertutur Slank memang tidak semanis kritik Bang Iwan Fals dalam lagunya “Surat buat wakil rakyat” yang lebih puitif dan inspiratif.

Membuang percuma energi untuk saling menghujat bukanlah tindakan tepat disaat bangsa ini membutuhkan begitu banyak energi untuk mengisi, menghargai dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Terkait Merebaknya Film FITNA yang memprovokasi kemarahan ummat Islam tentu kita perlu tegas bersuara bahwa FITNA yang disebarkan dengan cara – cara FITNAH tidak akan menuai apa – apa melainkan fitnah dan fitnah yang silih berganti, Film antagonis garapan politisi belanda Geerts Wilder yang kerap memposisikan diri anti Islam itu memang berhasil sesaat “menggegerkan” namun sejatinya kelak pembuat film itu akan menuai karmanya sendiri lantaran mengabaikan budaya untuk berkarya dengan menjunjung tinggi sikap untuk saling menghargai, FITNA meledak sesaat namun kelak akan dilupakan dan tenggelam oleh sebuah “Seleksi alam”.

Marilah kita Budayakan saling menghargai !!! …Wallahu’alam

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Dukung dan Sukseskan Pertamina Blog Contes 2009 : Kerja Keras Adalah Energi Kita