Secerah Pewarna di Pulau Dewata

Sesaat bus menginjak dermaga pelabuhan ketapang, beberapa musisi jalanan tidak melewatkan kesempatan untuk berunjuk kebolehan, seniman – seniman alam itu memetik gitar, menabuh gendang dan menyanyikan kisah sedih tragedi bom bali, kuingat tragedi yang terjadi di legian kuta itu telah lama terjadi namun duka atas tragedi kemanusiaan itu terasa masih menghunjam dalam, begitupula sesaat bus menjejak gilimanuk, sebuah pos pemeriksaan harus dilalui dan beberapa petugas dengan sigap mencatat identitas setiap orang termasuk tujuan dan masa kunjungnya di Bali, petugas pengamanan pelabuhan itu melakukannya tanpa kesan yang berlebihan dan meski tak terucapkan seolah mereka dengan ramah mengatakan “Selamat Singgah di Pulau Dewata – Pulau Seribu Pura”

Perjalanan menuju Denpasar sedikit terhambat karena di dibeberapa rute jalan bus harus berpapasan dengan parade baris – berbaris dan juga karnaval, rupanya agustusan di Bali tidak kalah meriah dengan di Jawa atau di tempat lainnya, justru menjadi menggelikan ketika dengan fakta ini masih ada yang beranggapan bahwa Bali dengan status khususnya sebagai Daerah Istimewa bukanlah bagian Integral dari negara kita.

Sepanjang perjalanan menuju denpasar terlihat keaslian Pesona Alam Bali yang sangat natural, hamparan hijau persawahan dengan petak bertingkat atau terasiring tampak elok sekaligus menyegarkan, Budaya bercocok tanam di Bali hingga saat ini bisa bertahan karena didukung oleh kesesuaian sistem pengairan yang dikenal sebagai Subak, sebuah potret kearifan tradisional di tengah arus dan pusaran zaman.

Setelah kurang lebih dua jam akhirnya sampai juga di terminal Ubung dan musisi jalanan kembali memperdengarkan senandung pilu tragedi legian dengan paduan irama gendang yang dinamis, rancak dan menghentak.

Jika mengikuti panduan, rute yang seharusnya kutempuh adalah Ubung – Kreneng – Sanur namun seorang sopir angkot yang kemudian kukenal bernama Pak Komang menawarkan diri untuk mengantar langsung ke PPLH Bali di Jalan Danau Tamblingan – Sanur, Pak Komang semakin senang manakala kuceritakan asalku dari Lumajang, para pengrajin perak asal Pulo – Lumajang selama ini cukup dikenal di Bali sebagai pekerja art shop, mereka banyak tersebar di daerah celuk dan sekitarnya, selain itu Pak Komang berharap suatu saat bisa mengunjungi Lumajang yang sudah lazim dikenal sebagai sebuah Kota Penghasil “Pisang Agung” yang terletak di Lereng Gunung Semeru. Lumajang ternyata menyimpan daya tarik wisata religi khususnya bagi peziarah dari Bali, konon setidaknya sekali dalam seumur hidup warga hindu di syariatkan untuk menunaikan ritual sembah-hyang di Pura Mandara Giri Semeru Agung yang terletak di Kecamatan Senduro – Lumajang, sayangnya ritual ini tak ubahnya ibadah haji dan umrah bagi ummat Islam yang dilaksanakan “bila mampu”, untuk keperluan yang satu ini ummat hindu harus menempuh perjalanan ke lokasi mata air suci “Watu Klosot” di Kaki Gunung Semeru dan juga melaksanakan Persembahan (Kurban) yang dilarung di Pantai Watu Pecak (Pantai Laut Selatan), ssst….tanpa terasa PPLH sudah di depan mata dan sekilas info tentang syariat hindu di kota lumajang harus berakhir disini.

Dua hari di PPLH Bali, kami hanya sempat jalan – jalan sore ke Plaza Hardy’s sekedar melihat – lihat cinderamata khas Bali dan jalan – jalan pagi ke pantai sanur menanti “sunrise” terbitnya Sang Mentari, jika turis eropa paling suka jogging sambil menyapa “Se-lamat Pagi” maka turis dari negeri sakura terlihat antusias menyambut datangnya Sunrise, Syariat agama mereka yang memuja matahari menjadikan fenomena sunrise sebagai moment yang istimewa. Para orangtua kita yang menjadi saksi sejarah pernah menuturkan bahwa Pemerintahan Pendudukan Jepang mentradisikan untuk setiap pagi melakukan penghormatan kepada sang kaisar yang diyakini sebagai titisan dari Sang Dewi Matahari “Ametarazu Omikami”, ada juga yang menyebutnya sebagai “Sang Timur” yang disembah setelah terdengar aba – aba “Seikerei Tenno Haika”

Menjelang detik – detik yang dinanti beberapa turis terlihat mengeluarkan digital camera bersiap membidik ke arah timur, bahkan ada yang sejak shubuh telah mempersiapkan seperangkat kamera khusus berlensa fokus panjang yang ditopang oleh sebuah tripod namun sayang keindahan sunrise gagal disaksikan lantaran terhalang oleh gugusan awan. Menariknya turis – turis jepang itu dengan ceria menuturkan “It’s OK , Maybe Tomorrow or Maybe The Day after Tomorrow” sebuah ungkapan yang menandaskan “hanya sebatas inilah ikhtiar manusia dibawah kekuasaan Tuhan”, sebuah ungkapan yang juga berarti “LA KHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”

Para Jurnalis Barat menjuluki Bali sebagai “The Heaven Island” alias Pulau Sorga, bagi para Backpacker Pulau ini memang menawarkan banyak kejutan serta dinamika petualangan alam dan budaya, beruntung sekali ada seorang teman, I Wayan Anggara Bawa dari BOA (Bali Organic Assosiation) mengajak berkeliling melihat bali kala senja beranjak malam.

Dari Sanur kami menelusuri jalan ke arah selatan melewati By Pass Bandara Ngurah Rai dan berputar menuju Pantai Kuta, pantai selatan berombak tinggi dan berpasir putih ini tidak hanya menjadi tujuan utama wisata di Bali, pantai kuta sudah lama dikenal sebagai sorganya para peselancar dan menjadi tempat yang mengilhami Andre Hehanusa dan seniman – seniman lainnya untuk menciptakan lagu dan karya – karya indah, sayang kami datang terlambat sehingga gagal menyaksikan matahari terbenam alias sunset namun setidaknya masih terlihat gambaran keindahan seperti yang digambarkan oleh Maribeth, seorang penyanyi asal filipina dalam lirik lagunya “Denpasar Moon, Shining on an empty street”.

Perjalanan berlanjut ke pusat kota, melewati monumen peringatan bom bali – sebuah dinding penuh bertuliskan nama – nama korban jiwa pada tragedi 12 Oktober 2002 itu, para wisatawan biasanya datang untuk memperingati tragedi bali dengan menyalakan lilin di sekitar lokasi kejadian dan setiap tahunnya tragedi itu diperingati sebagai momentum untuk “Bangkit” diatas semangat Persaudaraan dan Perdamaian.

Bom Bali menyisakan stigma pukul rata, selain sektor pariwisata yang terimbas langsung karena munculnya Travel Warning, komunitas muslim khususnya Komunitas Muslim Bali menghadapi tantangan untuk bisa membuktikan bahwa Islam dan Syariat Islam merupakan ajaran anti terorisme, Islam senantiasa mengajarkan “Seseorang tidak dinyatakan beriman sebelum ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri” sebuah pesan damai yang sepatutnya kita jaga dan refleksikan secara nyata dalam realitas kehidupan.

(Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas, Sebuah Catatan Perjalanan)

Iklan

AIDS Awareness Early Warning System in Holy Qur’an

Gerakan Waspada AIDS bertajuk AIDS AWARENESS semakin gencar akhir – akhir ini, begitu serius, kompleks dan menakutkannya ancaman penyakit AIDS ini sehingga Barat yang selama ini mengklaim memiliki teknologi pengobatan super canggih menjadi gagap dan tak berdaya bahkan secara ‘sadar’ para profesor pengobatan menegaskan belum adanya vaksin dan obat yang bisa mengatasi penyakit ini, lantaran hal inilah kampanye waspada AIDS lebih banyak diarahkan pada aspek pencegahan dan sosialisasi dampak virus HIV/AIDS yang mematikan.

Para peneliti mengurai kesimpulan bahwa virus yang menurunkan daya kekebalan tubuh itu tergolong jenis penyakit menular seksual yang hanya bisa dicegah dengan menanggulangi virus penyebabnya yaitu free sex dan perilaku sex menyimpang lainnya.

Fakta yang perlu digarisbawahi adalah semakin maraknya perilaku sex bebas, hubungan sex pra nikah dan penyimpangan sex yang tidak hanya terjadi di negara – negara barat yang dikenal sangat mendewakan kebebasan melainkan juga terjadi di negara kita sehigga ancaman virus mematikan itu sesungguhnya tengah terjadi di sekitar kita atau bahkan lebih dekat lagi…(Semoga Allah SWT melindungi kita dan generasi muda kita dari bahaya ini)

AL QUR’AN PELOPOR SISTEM PERINGATAN DINI HIV/AIDS

Peringatan atas musibah ini sudah puluhan abad silam disuarakan oleh Al Qur’an melalui seruan atas pentingnya menunaikan syariat pernikahan sebagai benteng untuk menghindari perzinahan sementara bahaya perilaku sex menyimpang juga sangat terang digambarkan melalui kisah Nabi Luth AS dengan kaum negeri sodom yang tidak tunduk dengan syariat pernikahan, mereka menolak seruan Nabi Luth untuk menikah antara pria dan wanita (Heteroseksual) karena tenggelam dalam budaya sex menyimpang seperti homo seks dan lesbian.

Peringatan dini yang termaktub dalam Al Qur’an harusnya membuka mata dan hati kita untuk bersama – sama dan secara sadar kembali kepada kehidupan beragama, menjadikan agama sebagai pelita yang mengeluarkan kita “Minad-Dzulumati ilan-Nur” dari belenggu kegelapan kepada cahaya yang terang – benderang

AIDS has already claimed the lives of more than 23 million men, women, and children world wide . With an estimated 42,3 million people throughout the globe currently living with this disease, most frightening is that current predictions tell us that this is only the start, just the beginning of the Aids epidemic. And without major action, this global epidemic will continue to kill millions.

AIDS telah merenggut 23 jiwa dan diperkirakan 42,3 juta orang mengidap penyakit ini dan tanpa tindakan pencegahan dikhawatirkan musibah tersebut menjadi awal dari penyebaran AIDS secara Global (Global Epidemi). Semuanya berpulang kepada kita “bersedia atau tidak untuk menuai hikmah dan mengambil pelajaran dari setiap kejadian karena Sesungguhnya Agama Islam dengan Syariatnya yang bersifat universal adalah Rahmatan lil Alamin, yang senantiasa mengajak kita kepada jalan – jalan keselamatan. Wallahu a’lam

( Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media )

Krisis Sejarah Atas Satu Abad Kebangkitan Nasional

Kebangkitan sesungguhnya adalah peristiwa besar terlebih jika usia kebangkitan itu telah mencapai 100 tahun, wajar jikalau banyak komponen bangsa dan bahkan tokoh nasional yang kemudian berupaya meraih momentum kebangkitan ini. Satu abad kebangkitan (“1908 – 2008”) berarti kita meng-amini dan secara sadar mengakui bahwa Boedi Oetomo adalah tonggak kebangkitan nasional yang sebenar – benarnya.

Secara obyektif kita mengakui demikian lantaran banyak hal khususnya untuk mentradisikan sesuatu yang sama dan seragam dari masa ke masa, 20 Mei terlanjur diakui sebagai hari kebangkitan nasional dan proses reproduksi atas pengakuan tersebut tetap berjalan karena mendapat legitimasi yang lebih dari pembelajaran tekstual sejarah kebangsaan selama ini.

Kecenderungan proses cetak ulang atas tradisi kebangkitan nasional ini berimplikasi pada dua hal, disatu sisi pengakuan tersebut adalah pengakuan paling populer dan semua pihak menginginkan meraih popularitas itu namun disisi yang lain seolah kita menutup rapat – rapat terhadap adanya fakta – fakta yang berbeda yang secara obyektif sesungguhnya memiliki keterkaitan erat dengan momentum kebangkitan nasional.

Fakta Sejarah Kebangkitan Nasional yang terpinggirkan

Sudah lazim kita dengar bahwa Boedi Oetomo diakui oleh belanda sebagai organisasi kebangsaan pertama dan warisan penjajahan tersebut secara “tradisional” berhasil meminggirkan kenyataan bahwa ada versi lain yang disuarakan oleh aktivis – aktivis pergerakan Islam khususnya Keluarga Besar Bulan Bintang bahwa hakikatnya SI (Syarikat Islam) yang berdiri 16 Oktober 1905 adalah motor kebangkitan nasional yang sesungguhnya. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh sesungguhnya media – media Penerbitan Islam seperti halnya Panji Masyarakat, Al Muslimun, Media Dakwah, Suara Masjid, Tabloid Abadi dan lain – lain sudah sejak lama menyuarakan pentingnya sikap “Kritis” atas fakta sejarah kebangkitan nasional yang selama ini terpinggirkan.

KH Firdaus AN adalah Tokoh dan Penulis Islam yang sepanjang hayat secara lantang menyerukan perlunya pembaharuan atas tradisi peringatan kebangkitan nasional, kritiknya melalui tulisan tersebar di berbagai media juga melalui buku – buku yang beliau tulis utamanya “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo : Meluruskan sejarah pergerakan bangsa”, sayangnya buku tersebut sekarang sudah langka dan sudah tentu sangat terpuji jika diantara kita yang “memilikinya” bersedia berbagi dan mempublikasikan buku tersebut secara terbuka melalui blog atau website sebagai bagian dari upaya pelurusan sejarah pergerakan bangsa.

Menurut KH Firdaus AN jika dipelajari dari Anggaran Dasarnya yang berbahasa belanda ternyata Budi Utomo secara terang mengadopsi semangat kedaerahan yang kental karena tujuan organisasi ini adalah menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan bangsa Madura secara harmonis. Budi Utomo menitik beratkan pada perbaikan taraf hidup orang – orang Jawa dan Madura di bawah kekuasaan Ratu Belanda sebaliknya Syarikat Islam patut dikedepankan bukan saja karena keanggotaannya yang bersifat terbuka melainkan karena sesungguhnya SI-lah cikal bakal lahirnya pergerakan kebangsaan modern.

Syarikat Islam dan Kebangkitan Pergerakan Modern Indonesia

Syarikat Islam (SI) tidak sebatas pergerakan Islam melainkan pergerakan nasional yang terbuka terbukti SI mewadahi berbagai latar belakang ideologi termasuk bergabungnya beberapa anggota yang ber-ideologi radikal seperti Semaun, Darsono dan Alimin yang kemudian dikenal sebagai SI Merah. Sebagai Bapak Pergerakan Nasional Rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh 7 Surabaya menjadi tempat indekost bagi tokoh – tokoh pergerakan, disanalah tempat diskusi politik dan kebangsaan lintas ideologi.

3 orang tokoh pergerakan yang berguru dan indekost di rumah HOS Tjokroamnito adalah Ir. Soekarno, Kartosuwiryo dan Semaun. Ketiganya dikenal lantaran banyak memberikan warna bagi perjalanan pergerakan nasional, Bung Karno kemudian hijrah ke Bandung dan mendirikan partai nasional yang menjadi cikal bakal lahirnya PNI, Semaun dan kawan – kawannya kemudian mendirikan Partai Komunis Hindia Belanda pada tahun 1920 dan tidak lama berselang berubah menjadi Partai Komunis Indonesia yang diketuai oleh Semaun, sementara Kartosuwiryo kemudian dikenal sebagai Tokoh Islam yang berpengaruh luas dan sempat memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia.

Keengganan untuk meluruskan Sejarah

Pendek kata mengurai Syarikat Islam sebagai tonggak kebangkitan nasional menjadi menarik karena dipenuhi dengan catatan – catatan sejarah penting yang mengiringinya karena memang demikian adanya, karena Syarikat Islam adalah tonggak kebangkitan nasional yang sesungguhnya.

Pendek kata Budi Utomo sebagai pelopor kebangkitan nasional mungkin sebagian masih akan menilai demikian karena memang demikian adanya, karena pembaharuan atas krisis sejarah kebangkitan nasional masih menghadapi “tembok raksasa” yakni keengganan untuk meluruskan sejarah dengan dalih biarkan semuanya berjalan sebagaimana adanya… Wallahu A’lam

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

HARBA DAN PII YANG “TERBANGKITKAN” DARI MASA KE MASA

Keluarga Besar Bulan Bintang khususnya KB PII saat ini kembali memperingati Hari Bangkit (HARBA PII) ke 61 yang jatuh pada 4 Mei 2008, pada awal kelahirannya Kebangkitan diterjemahkan sebagai lahirnya kesadaran dan tanggung jawab sebagai Pelajar Islam terhadap agama, nusa dan bangsa..

Dimensi Kebangkitan tersebut terus berkembang bersama dinamika bangsa dan tantangan zamannya.
Tatkala Ibu Pertiwi menghadapi beratnya fase perjuangan kemerdekaan Gelora Kebangkitan itu kemudian melahirkan Brigade PII sebagai bagian upaya pertahanan dan pembelaan negara serta menyalurkan tenaga – tenaga muda PII kedalam laskar – laskar perjuangan seperti Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah.

Dalam menyikapi Ideologi Merah khususnya Komunisme, PII memilih bersikap moderat namun kenyataan dalam prakteknya ideologi merah kemudian menjelma dalam tipologi gerakan massa yangkonfrontatif, massive dan dekat dengan anarkisme sehingga akhirnya memantik lahirnya Bahaya Merah dan membuat PII harus bangkit dan tegas bersikap, pada tahun 1950 dalam Kongres Pemuda Indonesia di Surabaya PII menolak bergabung dalam Front Pemuda Indonesia lantaran kongres pemuda tersebut menjadi ajang blok – blokan, saling menguasai dan banyak ditunggangi oleh kepentingan kelompok kiri yang dimotori oleh Pesindo Pemuda Rakyat, Pasca peristiwa 1965 PII bersama komponen bangsa lainnya bergerak dalam sebuah Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Islam (KAPPI), “Bangkit” bersama mengawal tiga tuntutan rakyat (Tritura) sebagai Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera).

Arah Kebangkitan PII semakin jelas dan fokus dengan lahirnya Gerakan Amal Sholeh (GAS) dengan slogannya yang terkenal Kembali ke Sekolah, Kembali ke Masjid dan Kembali Ke Kampung, melalui Gerakan Amal Sholeh Pelajar Islam Indonesia bangkit untuk ikut menanggulangi Krisis Moral yang melanda Generasi Muda selanjutnya PII bergiat bangkit dalam pembinaan generasi muda melalui Sistem Pembinaan Potensi Pelajar dan Generasi Muda seperti Leadership Basic Training (LBT), Mental Training (Mentra) dan Perkampungan Kerja Pelajar/Pemuda (PKP).Pergerakan Pelajar Islam Indonesia dengan pemberdayaan potensi pelajar dan generasi muda yang senantiasa diperjuangkannya berhasil “Bangkit” dan membuka jalan bagi mempersiapkan kader – kader pemimpin masa depan. Keluarga Besar PII kini tersebar dan giat berkarya di berbagai bidang pembangunan, sebagian KB PII juga tampil kedepan sebagai kader – kader partai yang berhasil memberi warna di berbagai Partai Politik. Ditengah tarikan – tarikan politik dan godaan kekuasaan, PII sebagai organisasi pelajar dituntut untuk “Bangkit” menjaga independensi dan tidak larut dalam pragmatisme politik.

PII harus senantiasa “Bangkit” menjaga “eksistensinya” sebagai organisasi pelajar yang tak pernah berhenti membina dan mempersiapkan kader – kader ummat dan kader – kader pemimpin bangsa yang berkepribadian Islam dan berperadaban Islam.SELAMAT BER-HARI BANGKIT !!!

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Silahkan Klik untuk membaca tulisan lain seputar PII