Quo Vadis Amien Rais (Umat Islam Niscaya Tidak akan Mendukungmu Lagi !!!)

Ditulis Oleh : Ahmad Sumargono, S.E, M.M

(Deklarator Partai Bulan Bintang, Ketua GPMI, Kandidat Doktor Ilmu Pemerintahan UNPAD)

Pernyataaan Amien Rais dalam wawancara dengan majalah Tempo 4 Mei 2008 bertajuk : Ahmadiyah Punya Hak Hidup untuk kesekian kalinya membuat saya terperangah. Dengan semangat membela Ahmadiyah Amien Rais berkata, “Saya mencium ada kelompok siluman yang melakukan semacam operasi intelejen untuk memeperkeruh suasana, menghancurkan ketenangan masyarakat.” Tuduhan itu bukan alang kepalang daya pressurenya, karena di ketahui bersama bahwa komponen umat Islam terbesar, atau Islam mainstream di negeri ini inilah yang justru berada di balik protes-protes keras pembubaran Ahmadiyah. Wabil khusus tentu saja MUI ( Majelis Ulama Indonesia) yang telah dua kali mengeluarkan fatwa tegas bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan.

Amien Rais menyetarakan protes-protes Ahmadiyah itu dengan konflik Islam-Kristen di Ambon . kata Amien Rais , “Sebelumnya tidak pernah ada konflik Islam-Kristen di sana, tiba-tiba muncul.” Amien Rais sama sekali tidak menyebutkan akar masalah inti konflik horizontal Islam-Kristen di Ambon itu, jelas-jelas terjadi karena di mulai pertamakali dengan peristiwa penyerangan pihak Kristen terhadap kelompok Islam. Umat Islam yang baru saja merayakan Idul Fitri tiba-tiba saja di serang, di serbu, di bantai secara membabi buta. Ketika konflik berlarut-larut, umat Islam makin tersudut dan terus menerus di bantai, datanglah bala bantuan dari Laskar Jihad pimpinan Ust Jafar Umar Thalib. Posisi pun berubah, umat Islam bahkan banyak memenangkan peperangan dalam berbagai front yang ada di Ambon dan sekitarnya.

Dalam posisi umat Islam di atas angin, Amien Rais sepulang dari kunjungan ke AS (1999), tiba-tiba membuat pernyataan yang amat mengejutkan, yakni : Mengundang Pasukan asing semacam Pasukan Perdamaian PBB agar masuk ke Ambon. Ide ketua Muhammadiyah ( ketika itu) sungguh aneh. Pulang dari Amerika Serikat mendadak sontak mempunyai pemikiran yang sarat anasir aspirasi di luar Islam. Bisa di bayangkan jika benar-benar pasukan asing didatangkan ke Ambon, bisa jadi sampai hari ini konflik di Ambon akan terus berkobar.

Sikap Amien Rais yang sering kontroversial dalam setiap pernyataannya itu memang sangat menarik perhatian pers juga publik yang membacanya. Tulisan-tulisan Amien Rais yang merinci masalah Tambang di Busang juga Freeport, (1997) di elu-elukan masyarakat khususnya Islam. Dengan angka-angka yang amat gamblang Amien Rais membongkar ketidakadilan kontrak karya di Busang dan Freeport. Amien Rais menyebutkan lokasi tambang emas Freeport kini menjadi kubangan raksasa berupa danau. Seluruh isinya, gunung emas sudah pindah ke Amerika Serikat. Sikap kritis Amien Rais yang pro rakyat dan sebaliknya dengan berani menghantam rezim Soeharto, telah melambungkan nama Amien Rais menjadi pahlawan baru. Saya sendiri sejak awal sangat bersahabat dan bersimpati kepada Amien Rais karena itu ketika Amien Rais semakin melambung namanya karena sikap kritisnya kepada rezim Soeharto, hal ini telah membuat rezim Soeharto berang dan dan merekayasa agar Amien Rais di copot jabatannya sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI.Habibie pun ikut menekan agar Amien Rais mundur. Di sini, saya membela posisi Amien Rais dan menulis duduk masalahnya secara gamblang di harian KOMPAS, “Amien Rais dan masa depan ICMI” ( KOMPAS 24 Februari 1997). Tetapi bersamaan dengan waktu yang terus berjalan dengan jatuhnya rezim Soeharto, sepak terjang Amien Rais terus bermunculan yang “aneh” buat saya. Karena sikapnya dalam konflik Islam-Kristen di Ambon, ingin mendatangkan pasukan asing , semacam Pasukan Perdamaian PBB itu. Adian Husaini menulis buku berjudul : Amien Rais dan Amerika Serikat, yang sarat kritik pedas. Buku yang amat gamblang membedah penampilan Amien Rais yang justru konsisten “mengabdi” kepada kepentingan asing, hal ini tidak pernah di jawab oleh Amien Rais.

Sikap Amien Rais di hari-hari “musim semi” umat Islam membentuk partai politik Islam pasca lengsernya Presiden Soeharto, sekitar Juni-Juli 1998, kembali pilihan dan sikap Amien Rais menjadi tanda tanya besar buat saya. Ketika itu saya dan tokoh-tokoh Islam lainnya sibuk pula mempersiapkan partai Islam penerus Masyumi yang kemudian menjadi partai Bulan Bintang sekarang. Sususnan pengurus DPP (sementara) sudah sepakat di tentukan melalui rapat-rapat di kediaman Bapak HM Cholil Badawi dan DR. Anwar Haryono SH. Di Ketua umum pun di se pakati akan duduk Yusril Ihza Mahendra. Namun tatkala Amien Rais bertandang kerumah Pak Anwar Haryono, Juli 1998 di tawarkanlah agar Amien Rais mau duduk sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Amien Rais pun dengan mantap menyanggupi tawaran itu, Sdr Yusril pun ( saat itu sedang berada di Banyuwangi Jawa Timur) langsung di telepon dan siap posisinya di gantikan Amien Rais dan Yusril duduk sebagai Sekjen. Adegan mengharukan pun tercipta. Semua yang hadir larut dalam tangis dan saling peluk, di mana Amien Rais pun memeluk dan di peluk Anwar Haryono yang hanya bisa duduk di kursi roda karena mengidap stroke. Semua orang menjadi lega terutama Anwar Haryono yang di kenal sebagai juru bicara Masyumi setelah partai ini di paksa bubar oleh rezim Soekarno pada tahun 1960. Acara di tutup dengan doa bersama untuk kesukesan partai penerus Masyumi itu. Selanjutnya Amien Rais pun pamit segera pulang karena hari itu adalah hari Jumat dan harus segera pulang melaksanakan sholat Jumat di kantor pusat PP Muhammadiyah di Menteng Raya 62 Jakarta.Kejadian yang amat dramatis itu terjadi hanya beberapa jam saja setelah adegan pelukan -pelukan yang mengaharukan di rumah Bapak Anwar Haryono. Amien Rais tiba-tiba muncul di layar televise seusai sholat Jumat di kantor PP Muhammadiyah. Ketika wartawan menanyakan, apakah Pak Amien Rais mantap akan memimpin partai Bulan Bintang, Amien Rais menjawab, “ Saya akan mendirikan partai lain yang lebih terbuka . Bagi saya partai seperti Partai Bulan Bintang ibarat baju akan “kesesakan” jika saya “pakai”, pernyataan ini kini di catat sejarah menjadi pendirian seorang Amien Rais. Ia kemudian memprakarsai berdirinya PAN (Partai Amanat Nasional) bersama-sama Goenawan Mohammad , Albert Hasibuan dll. Platform partai pun di kabarkan di siapkan orang-orang Goenawan Mohammad, walau bos Kelompok Tempo ini tak lama setelah PAN berdiri justru meninggalkan PAN.

Bela Ahmadiyah

kembali ke pernyataan Amien Rais soal Ahmadiyah di awal artikel ini. Seharusnya saya tidak perlu terkejut karena sudah memiliki catatan historis tentang Amien Rais. Komentarnya terhadap FUI (Forum Umat Islam) memang menyakitkan. FUI di tuduh sebagai organisasi siluman. Padahal FUI ini merupakan gabungan lebih dari 50 ormas Islam termasuk Muhammadiyah berada di dalamnya. Saya tahu bahwa Amien Rais tahu persis personel di tubuh FUI yang tak lain adalah justru para sahabatnya sendiri yang pada tahun 2004 lalu justru mendukungnya maju sebagai Capres.

Di tengah keraguan dan track record Amien Rais yang kelabu itu, toh Amien Rais tetap di jagokan seluruh Komponen politik Islam, PKS juga tokoh-tokoh Islam, misalnya KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafii (Tokoh ulama Betawi kharismatik yang kini menjadi pimpinan FUI). Walau demikian menjadi gamblang pula, potret Amien Rais yang hari ini bisa tampak sangat melawan Amerika Serikat, namun nanti sore dia sangat membela kepentingan Paman Sam. Kata ungkapan Jawa: “Isuk Dele Sore Tempe” (Pagi masih berupa Kedelai dan sore hari sudah berubah menjadi tempe).

Saya teringat pada sebuah diskusi di Universitas Trisakti awal 1980-an sepulang Amien Rais dan Nurcholis Madjid dari studi di Chicago University. Sikap Nurcholis Madjid yang cenderung ingin mencari selamat itu di sindir Amien Rais dengan menyitir anekdot Kyai, Ular dan Kodok. Cerita Amien Rais di sambut dengan gelak tawa yang meledak. Karena sikap kyai yang sangat plin plan itu di lekatkan ke tubuh Nurcholis Madjid dengan sangat jitu. Kini saya bisa memastikan bahwa sikap kyai seperti itu ternyata juga melekat di tubuh Amien Rais.

Sebagai mubaligh yang hampir setiap hari menghampiri umat dan masyarakat luas di tingkat grass roots, saya kini acapkali di sergap pertanyaan jamaah yang awam “Bagaimana kabar pak Amien Rais? Menurut rakyat awam, kehancuran bangsa Indonesia saat ini mutlak menjadi tanggung jawab Amien Rais. Sikapnya yang jelas-jelas plin plan dan tidak konsisten bahkan membawakan agenda asing (seperti sikapnya mengenai masalah Ahmadiyah) kini terbuka dengan senyata-nyatanya. Kini menjadi pertanyaan besar :

Ada Apa sebenarnya Amien Rais dengan Ahmadiyah?

Sebuah dokumen awal reformasi niscaya bisa membantu kita. Amien Rais saat menjabat sebagai ketua MPR-RI, pada 22 April 2000 pernah menerima kunjungan Kholifah Ahmadiyah Mirza Thahir Ahmad. Kunjungan pemimpin Ahmadiyah ini di atur oleh Dawam Raharjo, dalam kapasitas sebagai salah-satu pimpinan Muhammadiyah. Mirza Thahir sempat berkunjung ke berbagai kota di Jawa dan mengumumkan pencanangan Indonesia (menjadi) Pusat Ahmadiyah di dunia. Di Yogya Mirza juga mengumumkan hendak membuka Perkampungan Islam Internasional degan lahan seluas 500 hektar bekerjasama dengan Sri Sultan Hamengkubuwono. Ketika itu, foto Amien Rais saat menerima kunjungan cicit Mirza Ghulam Ahmad ini di muat hampir seluruh media massa baik cetak dan elektronik. Kunjungan ini pun sempat di protes oleh kelompok Khatamunnubuwwah dari Pakistan yang sengaja mengirimkan 50 orang utusannya ke Indonesia untuk memprotes PP Muhammadiyah yang telah menjalin kerjasama dengan Ahmadiyah/ Mirza Thahir Ahmad. Dari balik cerita ini bisa di duga mengapa Amien Rais begitu membela Ahmadiyah.

Quo Vadis Amien Rais. (Umat Islam Niscaya Tidak akan Mendukungmu Lagi !!!).

Wallahu’alam bissawab.

‘(Sumber : Tabloid Suara Islam, Juni 2008)’

Iklan

17 Tanggapan

  1. Prof sejak kapan anda berubah ?
    Dulu anda pemimpin yang ditunggu ummat
    Kini ummat berpikir seribu kali untuk kembali mendukungmu

  2. Pak Ahmad Sumargono adalah pendukung Pak Amin Rais pada Pilpres 2004 tulisan diatas saya rasa bukan untuk menyerang Pak Amin Rais tapi lebih bernada kekecewaan atas perilaku politik Pak Amin Rais dan seharusnya Pak Amin Rais dengan gentlemen berani mengoreksi diri dan meminta maaf kepada umat islam yang telah banyak dikecewakan

  3. saya tetap suka dan mengagumi Professor Amien Rais tanpa bapak bangsa yang satu ini negeri ini masih akan terus dijajah rejim orde baru, bukankan beliau orang yang paling awal meneriakkan suksesi dan reformasi ???

  4. Mari kita berkhusnudzan saja dan do’akan semoga dibuka pintu hidayah untuk Pak Amien agar kembali lurus dan diterima ketika kembali ketengah – tengah umat

  5. AR setali tiga uang dengan GD Sukanya bikin bingung umat, untung di PAN sekarang ini yang populer SB sedang PKB GD wassalam di pengadailan kalah sama MI jadi pemilu depan umat tidak perlu sungkan – sungkan dalam memilih sesuai hati nurani

  6. tanpa diperpanjang di artikel diatas kita sudah tahu kok siapa amien rais yang sebenarnya semoga pengagumnya membuka mata dan hati untuk tidak mengkultuskannya

  7. assalam..,
    tampaknya saya telat membaca tulisan diatas, tapi tentu tidak mengurangi niat saya untuk urun saran tentang sikap penulis dan beberapa pihak yang menanggapi “miring” seorang amien rais.
    lepas dari siapa amien rais, seharusnya rakyat indonesia menyadari bahwa beliau adalah orang yang berjasa bagi bangsa ini. Pemikiran-pemikiran beliau yang terbuka dan “pedas” pada kurun waktu 1980an s.d. 90an telah membuat penguasa rezim orde baru panas kuping. Terlebih beliau mampu menjadi “penggerak” (katalis) reformasi, masih ingat ketika itu saya masih duduk di bangku kelas 1 SMU, saya melihat Amien Rais, berpidato di Balairung UGM, bersama mahasiswa menyerukan suksesi nasional.
    Memang sebelum beliau sudah ada orang-orang yang menentang kepemimpinan Orde baru, namun ternyata hanya amien rais yang mampu merealisasikan “mimpi” ibu pertiwi yang seharusnya terealisasikan pada awal 80an. Lepas dari moment yang tepat (karena memang rakyat sudah terlalu jenuh) namun amien rais dapat meraih harapan itu, dan sukses menjadi masinisnya.
    Tentang sikap amien rais yang “tunduk pada asing”. tampaknya itu terlalu berlebihan. Karena sejak saya mengenal sosok amien rais, kemudian saya mengumpulkan tulisan, artikel, pidato, dll baik dari internet, maupun kliping mama saya (karena mama saya memang pendukung sejati beliau) saya sedikit banyak tau bahwa Amien Rais adalah pemikir islam yang ingin/bercita-cita agar semua suku bangsa didunia ini saling menghormati, sehingga beliau benar-benar marah saat kekuasaan asing (USA dan Sekutunya) menginjak-injak martabat negara berkembang (negara lemah) termasuk indonesia. Mimpi beliau tentang kesamaan antar bangsa ini jelas telah menghantarkan pimikiran beliau yang selalu menentang neoimperialis barat termasuk dibidang SDA. Tidak hanya freeport, amien juga menentang privatisasi aset nasional terhadap asing, dan kontrak-kontrak karya yang merugikan bangsa ini…!
    Sungguh, saya tentu yakin bahwa pernyataan beliau tentang ahmadiyah ataupun konflik ambon beberapa waktu yang lampau, bukan untuk tunduk pada kepentingan siapapun termasuk Amerika, karena seorang Amien sangat memegang teguh bahwa semua manusia itu sama dan tidak ada okupasi atau penjajahan atas manusia yang lain sehingga buat apa tunduk sama kepentingan pihak lain..?
    tentang pilihan Amien kepada PAN, terlepas dari paham yang berkembang tentang kedudukan negara dengan agama (islam), Amien adalah orang yang percaya bahwa pendirian negara tidak dapat dipaksakan harus berlandaskan islam, namun nilai-nilai keislaman tentu tidak akan dapat terlepaskan dari penyelenggaraan agama (pemikiran ini bukan sekuler bukan pula monotheisme, namun ada ditengah-tengah). Jadi suka atau tidak suka, kita harus menghargai pemikiran beliau, selama beliau tidak berfikir bahwa memakai Jilbab dilarang seperti di Turki bukan..?
    Pemikiran tersebut diatas berimbas pada praktek politik praktis beliau dilapangan dengan mendirikan PAN, kendati bukan partai Islam, namun pada awal-awal pendiriannya PAN memiliki “soul” keislaman yang kental.
    Tentang konsistensi beliau yang kurang, memang itu tadi seperti yang saya katakan, mungkin itulah kekurangan beliau, terlepas dari siapa beliau, amien rais hanya seorang manusia biasa yang tentu memiliki sisi negatif, namun hingga saat ini saya juga masih tetap yakin bahwa sisi negatif beliau itu tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk tetap kita nobatkan sebagai Bapak refosmasi sekaligus salah satu Cendikiawan Muslim Indonesia Terbaik.
    Wassalam.
    NB: Mohon jangan lekatkan alamat “UMAT” atau “RAKYAT” dalam setiap pernyataan yang itu hanya keluar dari pimikiran pribadi, karena justru itu akan mengecilkan pernyataan itu sendiri.

    Ilham RIzal.

  8. Assalam..,
    Pribadi saya sangat setuju dengan pendapat sdr. Ilham. Jujur saya adalah salah satu pengagum sosok Amien Rais sampai sekarang walaupun saat ini saya aktif di Parpol lain. Banyak temen2 mahasiswa pada tahun 1997 terbakar semangatnya untuk merobohkan orde baru karena sosok Amien Rais yang sangat vokal pada waktu itu. Saya bersama temen2 mahasiswa di daerah juga ikut berjuang dan turun ke jalan2 meneriakan slogan-slogan seperti bubarkan golkar, turunkan harga dan turunkan Soeharto. Tanpa Amien Rais hal itu boleh dibilang sangat kecil kemungkinannya terjadi. Kami mahasiswa pada saat itu sangat mengidolakan beliau, bukan karena beliau datang dari kaum akademis atau seorang dosen tapi karena pemikiran2 nya yang menurut kami sangat realitis.
    Tidak menjabatnya Amie Rais sebagai Ketua Umum PAN kembali menunjukan bahwa sosok Amien tidak gila dengan jabatan dan mengerti akan adanya re-generasi yaitu saatnya sekarang yang muda berbicara dan ikut mengambil peranan dalam kemajuan bangsa. Amien dengan rela meletakan jabatannya dan mendukung pencalonan SB sebagai ketua karena dianggap mewakili dari golongan muda.
    Seperti kata sdr. Ilham, Bung Amien juga manusia jadi tidak luput dari kekhilafan dan kesalahan tapi sangat dini kalo mengatakan Bung Amien mendukung Ahmadiyah dan berpihak kepada barat. Kemungkinan ada alasan2 tertentu mengapa beliau berbuat seperti itu dan semua itu jawabannya ada pada sosok Amien Rais sendiri.

    Wasalam…

  9. as wr wb

    sejujurnya pendapat saudara ilham memang suatu pendapat yang menyejukkan. Memang pak AR akan selalu tercatat dalam histori perjalanan panjang bangsa indonesia sebagai lokomotif perubahan…
    Namun sayang sekali lokomotif itu kemudian berjalan tertatih-tatifh bahkan belakangan cenderung mogok tidak dapat berjalan. Yang lebih parah lokomotif itu kemudian malah menjadi beban bagi sebagian umat ==yang dahulu sangat mengagumi dan banyak berharap==
    Dikatakan beban fakta membuktikan bahwa kiprah Pak AR muda dari hari ke hari semakin jauh dari (sekali lagi) sebagian umat yang dulu berharap pada beliau.
    Komentar beliau sering kali memojokkan, kurang menyejukkan. Berbeda jauh dengan pak AR senior (alm). Kalau AR senior (alm) semakin tua semakin menyejukkan sehingga begitu dicintai dan disegani oleh kawan dan lawan potiknya. Maka pak AR yang ini sebaliknya.
    Masih terngiang ketika beliau di suatu daerah karena kecewa dengan salah satu partai islam yang tidak mendukung pencalonannya, maka dengan membabi buta pak AR memfitnah dengan fitnah yang sangat keji.
    Begitu pula dengan berbagai keberpihakannya seperti tulisan pak Ahmad Margono di atas.
    Sehingga tidak heran beliau semakin jauh dari umat.
    Apatah lagi sekarang keluarga besar Muhammadiyah dihadapkan pada perpecahan 2 Partai yang sebagian besar mereka mengaku-ngaku sebagai anak kandung Muhammadiyah.
    Sungguh Pak AR muda (yang sudah tidak muda lagi) semakin ceho welo-welo semakin letoi dan tidak mendapat dukungan. Selamat jalan pak AR selamat tinggal pak AR.
    Tobatlah selagi pintu tobat masih terbuka lebar.

    wassalam

  10. memang orang tdk ada yg sempurna, saya juga termasuk orang yg kecewa dengan AR, yg sekarang sdh tdk konsisten lagi. dan saya tdk akan memilih AR lagi jika 2009 dicalonkan jadi Presiden.
    tapi saya harus mengakui peran AR membawa bangsa ini ke alam Demokrasi Politik, ekonomi,Hukum, dan pemilu langsung, sehingga lahirlah mahkamah konstitusi, pengadilan Tipikor, BI yg independen dan masih banyak yg lainnya, itu adalah buah dari reformasi yg dimotori AR,
    Kita bisa bayangkan jika tdk ada reformasi, jadi apa negara kita ini, tdk akan pernah ada jaksa tertangkap, penegak hukum diadili, mahasiswa bisa demo, Kejaksaan yg independ, pemilu langsung, dimana smua sendi-sendi kehidupan bangsa ini di atur oleh Orde baru.
    Dalam waktu 10 tahun lagi dgn God goverment tercipta dinegri ini kita bisa mengalahkan malaysia dan thailand.
    maaf saya hanya berusaha berimbang dalam melihat seseorang bukan hanya yg jelek-jelek saja atau yg bagus-bagusnya saja,
    Amin sama dgn kita manusia biasa yg punya rasa takut, plinplan, bingun,,,,,dlll….dia buka rosul atau malaikat.
    tapi mari kita tanya kepada diri sendiri beranikah kita ketika masa ordebaru melawan Soeharto……
    salam.

  11. Saya awalnya mengidolakan Amien Rais sebagai seorang da’i , bicaranya lembut layaknya seorang ulama, uraiannya terperinci dan lengkap sebagaimana seorang ilmuan dan sikapnya tegas atas kebenaran yang dipancarkan oleh Al Quran dan Hadith. Dalam hati saya pada waktu itu inilah Pemimpin Masa Depan yang yang dicari.
    Keraguan mulai timbul terhadap Amin Rais atas kegiatan dan sikapnya dimanasaya berkesimpulan yang menjadi targetnya adalah jabatan bukannya UNTUK KEPENTINGAN UMMAT.
    Yang pertama pada waktu Muktamar Muhammadyah di Aceh .Pada waktu itu rival utama Amin Rais dalam memperebutkan Ketuan Umum Muhammadiah adalah Lukman Harun. Ceritanya saya sudah lupa tetapi Amin Rais mendatangi kamar Lukman Harus(alm) tentu saja untuk membuat kompromi.
    Yang kedua pada waktu era reformasi dalam bidang kepartaian. Sebelum Amin Rais akhirnya menolak kedudukan Ketuan Umum PBB yang sebelumnya ia sudah komit dengan alasan baju PBB (baju Islam) kekecilan bagi dirinya. Hal yang sama terjadi pada waktu beliau sudah komit untuk menjadi Dewan Pakar PPP dan kemudian akan menjadi Ketua Umum PPP ,selang beberapa hari kemudian beliau menolak dengan alasan jangan dicap sebagai mengganjal kader PPP lainnya.
    Yang ketiga pada waktu pertanggungan jawaban Habibi ditolak MPR ada arus kuat dikalangan elit Partai agar Amin atau Akbar maju sebagai Capres.
    Namun menolak usulan tersebut (saya tidak tahu apakah baju Capres kegedean untuk Amin rais)Amin Cs berjuang habis-2an untuk menggoalkan GusDur dan Megawatisedang baju yang pas untuk Amin Rais adalah ‘cukup’ Ketua MPR saja.
    Yang keempat pada waktu pencalonan Capres dan cawapres tahun 2004 Amin Rais tidakmau dipersandingkan dengan golongan Islam bahkan sebagi kegiatan yang sangat diharamkan dalam hukum perkawinan Islam.
    Kelima sikapnya yang menolak syariat Islam dan membela Islamsempalan atas nama HAM .
    Ketuju sikapnya sebagai seorang dai yang intelektual telah hilang, yang terlihat sekarang adalah sikapnya yang sering merendahkan orang dan sikap orang lain ,sokpinter sendiri dan menggurui. Lawan politiknya seringkali ia beri nilai sendiri seolah oleh semua orang anak didiknya.

    Akhirnya kepercayaan saya terhadap Amin Rais sudah sirna samasekali

  12. Amien rais itu apa adanya. karna apa adanya itulah banyak orang yang salah tanggap dan salah kira. ga kayak elit politik lain, cuma cari simpati aja.. mencari simpati itu mudah, tutup aja wajah kita dengan topeng. pasti wajah asli kita ga kelihatan. amin rais itu ga menutup wajahnya dengan topeng sehingga apapun yang ada di wajahnya terlihat oleh semua orang..
    terkadang saya salut, amin rais itu ga perduli orang mo komentar apa, kalau menurutnya bagus akan dikatakan bagus tapi kalo menurutnya jelek akan dikatakan jelek.
    namanya manusia komentar negatif terhadap kiprah AR sih wajar, karna seperti pepatah mengatakan mengenai kekurangan manusia bahwa “semut dikejauhan kelihatan tapi gajah dipelupuk mata tidak kelihatan”.

    saya yakin komentar-komentar AR mengenai bangsa ini adalah untuk kemajuan bangsa indonesia. setidaknya kalau beliau memimpin, Indonesia pasti punya gigi di dunia internasional.

    mau sampai kapan mencari pemimpin yang hanya dilihat dari segi karismanya saja, atau murah senyumnya saja. terlalu berat negara kita untuk keluar dari masalah kalau memilih pemimpin hanya dilihat dari hal-hal tersebut saja.

    mencari pemimpin harus yang berani mengkritik dirinya dan bangsanya agar bisa mencari solusi untuk keluar dari masalah dan juga kita harus mencari pemimpin yang dapat berfikir out of the box….keluar dari kotak, berani mengambil keputusan dengan berani.

    terkait pernyataan beliau mengenai ahmadiyah juga perlu dicermati dan ditangkap esensinya bahwa menghilangkan ahmadiyah itu ibarat menghilangkan borok yang sudah mengakar di tubuh kita. kalau borok tersebut ingin dihilangkan dengan cepat harus diamputasi bagian tubuh kita yang terkena borok tersebut, namun resiko yang ditanggung pasti akan sangat besar. kalau ingin menghindari resiko amputasi tersebut, maka menghilangkan borok tersebut harus dengan kesabaran, dengan pengobatan yang terus menerus sampai benar-benar borok tersebut mengering dan hilang, namun waktu yang ditempuh sangatlah panjang dan lama. esensi dari pernyataan AR seperti itulah yang saya tangkap.

    kita yang ilmunya masih setengah-setengah ini harusnya mampu juga berfikir dengan jernih. bahwa kapasitas berfikir kita terkadang terlalu sempit untuk mengkomentari ucapan-ucapan seorang cendikiawan, ilmuwan yang terkadang sulit dicerna, yang sebetulnya bermaksud baik terhadap bangsa. seperti komentar-komentar yang teman-teman tulis di atas mengenai Cak Nur, AR ataupun orang-orang yang teman-teman anggap liberal. padahal yang tahu tebalnya keimanan kita hanya Allah SWT.

    selain itu yang perlu teman teman ketahui sewaktu kepemimpinan AR selama menjabat ketua MPR bisa dirasakan oleh rakyat bawah. saya memiliki teman dekat yang rajin ke rumah dinas beliau setiap AR tidak ngantor di senayan.
    bahwa dari jam setengah 6 pagi sampai siang di saat rumah-rumah pejabat lain tertutup rapat, rumah dinasnya selalu ngantri orang dari kelas bawah sampai pejabat, dari yang bersandal jepit sampai berjas rapi, dari yang minta sumbangan sampai yang ingin berdialog/berdiskusi dengan AR.
    teman saya pernah berkomentar dengan bangganya bahwa di saat ngantri di rumah dinas AR bahwa orang yang ngantri tepat dibelakangnya adalah Jimly Assidhiqi….bayangkan pejabat saja harus ikut mengantri tidak boleh menyelak. artinya budaya open house itu sudah dilakukan oleh AR jauh sebelum pejabat lain melakukannya seperti saat -saat ini

    namun hal-hal baik seperti yang saya jelaskan di atas tidak pernah AR besar-besarkan dan AR umumkan dimedia massa. maka wajar jikalau tidak sedikit orang yang sangat simpatik dengan AR karena mungkin tahu secara personal pribadi AR begitupun sebaliknya.

  13. hidup amien rais saya akan selalu mendukungmu..teruskan perjuanganmu..besok 2009 nyalon lagi tetap akan saya dukung …merdeka..allahu akbar

  14. Bingung juga mbaca postingan ini.

    Komentarnya juga tambah bikin bingung. Padahal AR adalah tetanggaku di Yogya dulu.

    Apa dia memang sudah berubah, atau masih seperti dulu?

    Atau aku yang memang tidak kenal dia?

    Semoga perbedaan pendapat ini hanay merupakan bagian dari rasa persaudaraan muslim kita.

    Amin.

    Salam

  15. Mas. Moh rizani anda yg hrs tobat kalo anda mmg org islam. Kr menjelekan saudara seiman. Maaf mgkn anda bkn seiman tp justru sbalikny tp musuh dalam slimutny org islam. Anda org munafik? Jk tdk istighfar

  16. sejak sepeninggal nabi muhammad, Allah banyak manurunkan ujian tentang perselisihan antar tokoh-tokoh Islam. Dan hal tersebut akan terus berlangsung sampai akhir jaman . Kalau direnung lebih dalam ,hal tersebut adalah sunah Allah, yang dengan hal itu menunjukkan bahwa perjalanan ke surga sangat berat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: