Datuk Sinaro Panjang Buya Dr. Mohammad Natsir, Pahlawan Pemersatu Nusantara

Bismillahirrahmanirrahiim

pahlawan-nasional-datuk-sinaro-panjang-dr-muhammad-natsir

Apa jadinya negeri ini jikalau Pak Natsir tidak mengambil langkah tepat dan brilliant lewat sebuah mosi integralnya ? Indonesia yang kala itu terpecah belah dan menjadi boneka belanda, bisa jadi saat ini masih akan menyandang status boneka belanda. Alhamdulillah pada akhirnya Allah SWT menunjukkan sebuah jalan persatuan melalui perjuangan gigih Dr. Mohammad Natsir hingga terwujudlah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemberian gelar itu diharapkan akan mampu menjernihkan pandangan sejarah yang telah menstigmatisasi Natsir sebagai pemberontak.

Mosi Integral, dengan tokoh kuncinya Mohammad Natsir diakui oleh berbagai kalangan pemerhati politik dari dalam dan luar negeri sebagai prestasi paling gemilang dan monumental yang pernah dicapai oleh Parlemen Indonesia. Sayangnya dalam perjalanannya prestasi parlemen yang begitu tinggi nilainya itu bagai dilupakan sejarah. Sedangkan tokoh kuncinya Natsir, bagai hilang dari catatan sejarah Republik Indonesia.

Mosi integral sebuah keharusan sejarah
Mosi ini tidak lahir begitu saja. Terjadinya perdebatan di Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah merupakan titik kulminasi aspirasi masyarakat Indonesia yang kecewa terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, 23 Agustus-2 November 1949. Pihak yang termasuk menolak hasil KMB adalah Natsir yang waktu itu Menteri Penerangan (Menpen) dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim. Natsir menolak jabatan Menpen dan memilih berkonsentrasi memimpin Fraksi Masyumi di DPR-RIS. Salah satu alasan Natsir menolak jabatan itu adalah karena ia tak setuju Irian Barat tak dimasukkan ke dalam RIS.


Perdana Menteri (PM) RIS Mohammad Hatta menugaskan Natsir dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan berbagai krisis di daerah. Pengalaman keliling daerah menambah jaringan Natsir. Selain itu, kecakapannya berunding dengan para pemimpin fraksi di Parlemen RIS, seperti IJ Kasimo dari Fraksi Partai Katolik dan AM Tambunan dari Partai Kristen, telah mendorong Natsir ke satu kesimpulan, negara-negara bagian itu mau membubarkan diri untuk bersatu dengan Yogya (maksudnya RI) asal jangan disuruh bubar sendiri.

Lobi Natsir ke pimpinan fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah- daerah lalu ia formulasikan dalam dua kata ”Mosi Integral” dan disampaikan ke Parlemen 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah dan PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan.

Mosi integral ini merupakan pijakan sejarah yang mahal dalam membangun kesatuan nasional Indonesia hingga kini.


Pak Natsir dan Gelar Pahlawan Nasional

Sesungguhnya dengan gelar atau tanpa gelar pahlawan pak Natsir tetaplah seorang Pahlawan Besar di hati ummat dan di tengah bangsa ini. Lebih dari itu pak natsir telah diakui oleh dunia internasional sebagai salah satu Pemimpin Islam terkemuka yang pernah dilahirkan oleh sejarah.

Keluarga Besar Bulan Bintang telah sejak lama memperjuangkan agar Pak Natsir diangkat sebagai pahlawan nasional namun meski terkesan terlambat pemberian gelar pahlawan pada tanggal 7 Nopember 2008 kemarin adalah sebuah momen penting yang seharusnya kita syukuri. Pak Natsir ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bersama dengan Tokoh Sentral Pertempuran 10 Nopember Surabaya Bung Tomo dan Tokoh Persatuan Umat Islam (PUI) KH Abdul Halim.

DPP Partai Bulan Bintang menggelar Tasyakuran khusus terkait pemberian gelar pahlawan nasional bagi Natsir, di Jakarta, Jumat kemarin.

Ketua Dewan Syuro Yusril Ihza Mahendra mengaku bangga dan bersyukur. Stigma negatif dalam sejarah Indonesia atas Natsir, menurutnya, sangat tidak beralasan. Mengingat pembentuk kabinet pertama RI ini merupakan sosok yang sangat banyak memberikan kontribusi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Pak Natsir dengan gagasan ‘politik bebas aktif’, telah menjadi pedoman bagi Indonesia dalam menjalankan kebijakan politik luar negerinya dan berkat jasa beliaulah Indonesia berhasil kembali ke pangkuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Almarhum merupakan sosok yang sudah lama menjadi panutan Partai Bulan Bintang. Nilai-nilai serta ajarannya menjadi inspirasi bagi kami dalam membangun bangsa ini,” ujarnya.

Stigmatisasi Sejarah Vs. Pelurusan Sejarah

Terkait stigmatisasi sejarah bahwa PRRI adalah sebuah kudeta dan pemberontakan Ketua Majelis Syuro itu menegaskan : “Mana mungkin seorang Natsir jadi pemberontak? Dia orang yang santun, bahkan hidupnya sangat bersahaja,” tegas Yusril.

“PRRI bukanlah pemberontakan, tapi hanya sebuah peristiwa politik dan masih dalam konteks NKRI. Sebagai oposisi terhadap penolakannya atas pembentukan Kabinet Djuanda yang dianggap inkonstitusional,”. Perjuangan Pak Natsir dan PRRI justru belakangan menjadi inspirasi yang diimplementasikan dalam bentuk otonomi daerah.

Bang Yusril juga menambahkan, sosok Pak Natsir sangat membekas pada dirinya, karena ia pernah berguru kepadanya. “Beliau itu orangnya santun, ramah, hidupnya pun sangat bersahaja. Maka beliau bisa dijadikan suri tauladan buat bangsa ini,” imbuhnya.

Sejarawan Anhar Gonggong mengatakan, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Perdana Menteri di era 50an Mohammad Natsir membuka ruang untuk menilai sejarah Indonesia.

“Bagi saya yang sekarang ini dilakukan pemerintah adalah justru membuka ruang untuk menilai kembali sejarah itu sendiri, itu yang penting,” kata Anhar di Istana Negara Jakarta, seusai menghadiri upacara penyerahan gelar pahlawan nasional kepada Natsir.

Namun, menurut Anhar, ada kesalahan sejumlah pihak dalam melihat sosok Natsir. “Kesalahan itu pertama seakan-akan ia anti Pancasila. Tidak, dia justru pernah menerangkan Pancasila dengan bagus di Pakistan sebagai dasar negara,” ujarnya.

Menurut Anhar, Natsir tidak melawan NKRI, perselisihan yang terjadi adalah akibat pertentangan politik. “Dia tidak menentang RI, jangan menyamakan antara pemerintah dan negara, itu dua hal yang berbeda. Natsir justru ingin menegakkan sesuatu yang menurut dia ukurannya lebih baik dari apa yg dilakukan pemerintah,” katanya.

Anhar mengatakan bahwa Natsir tidak mendirikan negara Islam namun mendirikan negara atas dasar syariah Islam kalau itu dikehendaki secara mayoritas, tapi kalau mayoritas tidak mengkehendaki dia juga tidak mau.

Momen Kebangkitan Pergerakan Islam.

Anugerah Pahlawan Nasional telah disandang oleh Sang Datuk Sinaro Panjang, Dr. Mohammad Natsir, semoga menjadi titik balik bagi upaya pelurusan sejarah dimasa- masa sekarang dan masa yang akan datang.

Lebih dari itu inilah momen penting yang diharapkan bisa menjadi penggelora kebangkitan pergerakan Islam demi kejayaan nusa, bangsa dan agama…Wallahu A’lam

Sumber :

  1. Jelang Seabad Pak Natsir Pahlawan di Hati Ummat, badrut tamam gaffas, https://bulanbintang.wordpress.com/about/natsir-on-5-jelang-satu-abad/
  2. Datuk Sinaro Panjang Dr. Mohammad Natsir, badrut tamam gaffas, https://bulanbintang.wordpress.com/2008/11/08/datuk-sinaro-panjang-dr-mohammad-natsir-pahlawan-pemersatu-nusantara/
Iklan

Datuk Sinaro Panjang Dr. Mohammad Natsir, Pahlawan Pemersatu Nusantara

Bismillahirrahmanirrahiim

pahlawan-nasional-datuk-sinaro-panjang-dr-muhammad-natsir

Apa jadinya negeri ini jikalau Pak Natsir tidak mengambil langkah tepat dan brilliant lewat sebuah mosi integralnya ? Indonesia yang kala itu terpecah belah dan menjadi boneka belanda, bisa jadi saat ini masih akan menyandang status boneka belanda. Alhamdulillah pada akhirnya Allah SWT menunjukkan sebuah jalan persatuan melalui perjuangan gigih Dr. Mohammad Natsir hingga terwujudlah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemberian gelar itu diharapkan akan mampu menjernihkan pandangan sejarah yang telah menstigmatisasi Natsir sebagai pemberontak.

Mosi Integral, dengan tokoh kuncinya Mohammad Natsir diakui oleh berbagai kalangan pemerhati politik dari dalam dan luar negeri sebagai prestasi paling gemilang dan monumental yang pernah dicapai oleh Parlemen Indonesia. Sayangnya dalam perjalanannya prestasi parlemen yang begitu tinggi nilainya itu bagai dilupakan sejarah. Sedangkan tokoh kuncinya Natsir, bagai hilang dari catatan sejarah Republik Indonesia.


Mosi integral sebuah keharusan sejarah
Mosi ini tidak lahir begitu saja. Terjadinya perdebatan di Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah merupakan titik kulminasi aspirasi masyarakat Indonesia yang kecewa terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, 23 Agustus-2 November 1949. Pihak yang termasuk menolak hasil KMB adalah Natsir yang waktu itu Menteri Penerangan (Menpen) dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim. Natsir menolak jabatan Menpen dan memilih berkonsentrasi memimpin Fraksi Masyumi di DPR-RIS. Salah satu alasan Natsir menolak jabatan itu adalah karena ia tak setuju Irian Barat tak dimasukkan ke dalam RIS.


Perdana Menteri (PM) RIS Mohammad Hatta menugaskan Natsir dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan berbagai krisis di daerah. Pengalaman keliling daerah menambah jaringan Natsir. Selain itu, kecakapannya berunding dengan para pemimpin fraksi di Parlemen RIS, seperti IJ Kasimo dari Fraksi Partai Katolik dan AM Tambunan dari Partai Kristen, telah mendorong Natsir ke satu kesimpulan, negara-negara bagian itu mau membubarkan diri untuk bersatu dengan Yogya (maksudnya RI) asal jangan disuruh bubar sendiri.

Lobi Natsir ke pimpinan fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah- daerah lalu ia formulasikan dalam dua kata ”Mosi Integral” dan disampaikan ke Parlemen 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah dan PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan.

Mosi integral ini merupakan pijakan sejarah yang mahal dalam membangun kesatuan nasional Indonesia hingga kini.


Pak Natsir dan Gelar Pahlawan Nasional

Sesungguhnya dengan gelar atau tanpa gelar pahlawan pak Natsir tetaplah seorang Pahlawan Besar di hati ummat dan di tengah bangsa ini. Lebih dari itu pak natsir telah diakui oleh dunia internasional sebagai salah satu Pemimpin Islam terkemuka yang pernah dilahirkan oleh sejarah.

Keluarga Besar Bulan Bintang telah sejak lama memperjuangkan agar Pak Natsir diangkat sebagai pahlawan nasional namun meski terkesan terlambat pemberian gelar pahlawan pada tanggal 7 Nopember 2008 kemarin adalah sebuah momen penting yang seharusnya kita syukuri. Pak Natsir ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bersama dengan Tokoh Sentral Pertempuran 10 Nopember Surabaya Bung Tomo dan Tokoh Persatuan Umat Islam (PUI) KH Abdul Halim.

DPP Partai Bulan Bintang menggelar Tasyakuran khusus terkait pemberian gelar pahlawan nasional bagi Natsir, di Jakarta, Jumat kemarin.

Ketua Dewan Syuro Yusril Ihza Mahendra mengaku bangga dan bersyukur. Stigma negatif dalam sejarah Indonesia atas Natsir, menurutnya, sangat tidak beralasan. Mengingat pembentuk kabinet pertama RI ini merupakan sosok yang sangat banyak memberikan kontribusi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Pak Natsir dengan gagasan ‘politik bebas aktif’, telah menjadi pedoman bagi Indonesia dalam menjalankan kebijakan politik luar negerinya dan berkat jasa beliaulah Indonesia berhasil kembali ke pangkuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Almarhum merupakan sosok yang sudah lama menjadi panutan Partai Bulan Bintang. Nilai-nilai serta ajarannya menjadi inspirasi bagi kami dalam membangun bangsa ini,” ujarnya.

Stigmatisasi Sejarah Vs. Pelurusan Sejarah

Terkait stigmatisasi sejarah bahwa PRRI adalah sebuah kudeta dan pemberontakan Ketua Majelis Syuro itu menegaskan : “Mana mungkin seorang Natsir jadi pemberontak? Dia orang yang santun, bahkan hidupnya sangat bersahaja,” tegas Yusril.

“PRRI bukanlah pemberontakan, tapi hanya sebuah peristiwa politik dan masih dalam konteks NKRI. Sebagai oposisi terhadap penolakannya atas pembentukan Kabinet Djuanda yang dianggap inkonstitusional,”. Perjuangan Pak Natsir dan PRRI justru belakangan menjadi inspirasi yang diimplementasikan dalam bentuk otonomi daerah.

Bang Yusril juga menambahkan, sosok Pak Natsir sangat membekas pada dirinya, karena ia pernah berguru kepadanya. “Beliau itu orangnya santun, ramah, hidupnya pun sangat bersahaja. Maka beliau bisa dijadikan suri tauladan buat bangsa ini,” imbuhnya.

Sejarawan Anhar Gonggong mengatakan, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Perdana Menteri di era 50an Mohammad Natsir membuka ruang untuk menilai sejarah Indonesia.

“Bagi saya yang sekarang ini dilakukan pemerintah adalah justru membuka ruang untuk menilai kembali sejarah itu sendiri, itu yang penting,” kata Anhar di Istana Negara Jakarta, seusai menghadiri upacara penyerahan gelar pahlawan nasional kepada Natsir.

Namun, menurut Anhar, ada kesalahan sejumlah pihak dalam melihat sosok Natsir. “Kesalahan itu pertama seakan-akan ia anti Pancasila. Tidak, dia justru pernah menerangkan Pancasila dengan bagus di Pakistan sebagai dasar negara,” ujarnya.

Menurut Anhar, Natsir tidak melawan NKRI, perselisihan yang terjadi adalah akibat pertentangan politik. “Dia tidak menentang RI, jangan menyamakan antara pemerintah dan negara, itu dua hal yang berbeda. Natsir justru ingin menegakkan sesuatu yang menurut dia ukurannya lebih baik dari apa yg dilakukan pemerintah,” katanya.

Anhar mengatakan bahwa Natsir tidak mendirikan negara Islam namun mendirikan negara atas dasar syariah Islam kalau itu dikehendaki secara mayoritas, tapi kalau mayoritas tidak mengkehendaki dia juga tidak mau.


Momen Kebangkitan Pergerakan Islam.

Anugerah Pahlawan Nasional telah disandang oleh Sang Datuk Sinaro Panjang, Dr. Mohammad Natsir, semoga menjadi titik balik bagi upaya pelurusan sejarah dimasa- masa sekarang dan masa yang akan datang.

Lebih dari itu inilah momen penting yang diharapkan bisa menjadi penggelora kebangkitan pergerakan Islam demi kejayaan nusa, bangsa dan agama…Wallahu A’lam

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)

Tulisan Lainnya yang terkait bisa diakses pada link berikut ini :

Jelang Seabad Pak Natsir Pahlawan di Hati Ummat