Pembajakan Budaya dan Solidaritas Serumpun Yang Terkoyak !!!

reog-ponorogo.jpg

Fenomena tarian barongan dalam situs kementerian pariwisata malaysia yang sama dan identik dengan kesenian Reog Ponorogo, gubahan lagu rasa sayange yang menjadi jinggle pariwisata malaysia, kasus alat musik angklung dan entah apalagi yang menyusul kemudian menjadi kajian khusus budaya yang menghangatkan media akhir –akhir ini.

Unjuk rasa yang merebak di tanah air merupakan bentuk wajar dari kegeraman pecinta budaya tanah air atas kecongkakan malaysia dengan aksi pembajakan budaya yang terus diupayakan demi menuntaskan agenda dan memenuhi ambisi untuk menjadikan malaysia sesuai slogan pariwisatanya , “malaysia the truly asia”.

Menimbang kembali hubungan diplomatik RI – Malaysia

Belum pupus ingatan kita dari kasus – kasus yang menimpa buruh migran yang sejatinya merupakan pahlawan penyumbang devisa negara, pemukulan sepihak dan tindakan diskriminasi atas wasit karate kita, juga kontroversi tapal batas ambalat, tiba – tiba kita dikejutkan dengan letupan – letupan budaya yang kembali memicu ketegangan di kedua negara. Teramat disayangkan solidaritas serumpun harus tercabik – cabik dan dipertaruhkan oleh segelintir oknum ambisius pemerintah diraja malaysia yang belum tentu dan tidak pula secara otomatis menggambarkan sikap masyarakat malaysia secara keseluruhan.

Sikap angkuh, keengganan untuk meminta maaf serta sikap – sikap kurang bersahabat yang selama ini diperlihatkan pemerintah malaysia semakin mengeraskan tuntutan dari berbagai pihak di tanah air untuk menimbang kembali atau mengkaji ulang hubungan diplomatik RI dengan malaysia.

Penguatan Identitas Nasional

Budaya menunjukkan bangsa begitulah bunyi pepatah, keanekaragaman budaya tanah air sudah demikian dikenal hingga ke mancanegara namun sayang apresiasi budaya nasional justru lebih banyak dilakukan oleh penikmat budaya yang berasal dari luar negeri, sementara generasi muda bangsa kita tengah asyik terjebak dalam lingkaran krisis identitas nasional dengan berkiblat pada segala hal yang berasal dari luar dan barat secara membabi buta. Jadilah budaya nasional tidak lagi mendapat tempat dan jauh dari harapan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Fakta penting yang bisa diuangkap adalah fenomena yang terjadi pada beberapa ulama, cendikiawan dan pujangga kita sebut saja Buya Hamka dan Mr. Mohammad Natsir yang justru lebih dikenal luas di negera tetangga daripada di negeri asalnya.

Buku, Novel serta Buah Pemikiran Buya Hamka dan Pak Natsir justru lebih banyak diterbitkan , dipublikasikan dan menjadi best seller di malaysia, bahkan versi online Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka yang tersedia di internet dibuat justru oleh warga negara malaysia sementara di dalam negeri Tafsir Al Azhar yang dibuat dengan gaya penulisan yang menarik, pilihan kata yang mudah dicerna justru menjadi tidak populer lantaran kegandrungan yang berlebihan dari generasi muslim di tanah air terhadap tafsir dari timur tengah seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Fi Dzilalil Qur’an.

Fakta lain adalah kecenderungan untuk melakukan eksport pelatih, meski disatu sisi ini bisa dianggap sebagai sebuah prestasi namun dalam perspektif lain negara bisa dinilai telah gagal memberikan program dan tempat yang memadai kepada pelatih – pelatih potensial tersebut sehingga mereka akhirnya hengkang dan memilih menjadi pelatih di luar negeri.

Hal ini dialami oleh beberapa mantan altlet berprestasi khususnya dari cabang bulutangkis seperti Joko Suprianto yang melatih di Brunei Darussalam dan terakhir yang menonjol adalah Rexy Mainaky yang melatih ganda malaysia hingga berprestasi dunia.

Beberapa fakta diatas memberikan gambaran betapa dalam urusan identitas nasional kita telah kedodoran sementara pembajakan budaya nasional dan asset bangsa yang marak terjadi akhir – akhir ini menjadi sebuah peringatan bahwa penguatan identitas nasional merupakan harga mati. 

Ditulis oleh : Badrut Tamam Gaffas  sebagai bentuk keprihatinan atas terkoyaknya solidaritas serumpun Semoga bisa menjadi titik balik bagi penguatan identitas nasional kita.
 

Iklan

8 Tanggapan

  1. btw indonesia dan malaysia bersaudara

  2. Kita terlalu lemah, katanya negara islam menghormati dan menghargai…… eeeeeeeeeeeeee kok maling

  3. Berbagai sikap yang telah ditunjukkan malaysia selama ini sudah merupakan bentuk pelecehan terhadap negara kita. Betapa tidak, dari soal wilayah, budaya hingga HAM, kita terus dirugikan secara terang-terangan. Mereka dengan sangat yakin bahwa segala tindakan yang mereka lakukan tidak akan mendapat perlawanan yang berarti dari Indonesia. “So What ?!!!” Apa yang bisa Orang Indonesia lakukan ?
    Nah, kalau hanya untuk diam, buat apa Nasionalisme ditanamkan sejak dini di sekolah-sekolah ? Untuk apa kita diperkenalkan nama-nama pahlawan ?

    • Yaa..
      Saya setuju dengan pendapat Anda !!
      Indonesia memang terlalu santai menghadapi tindakan Malaysia yang sudah melampaui batas.
      Karena itulah, Malaysia tidak pernah ” BOSAN ” untuk melecehkan Negara kita INDONESIA.

  4. huh Indonesia seharusnya lebih bisa tegas dalam mempertahankan semua kebudayaan indonesia.
    pemerintah juga seharusnya lebih tegas dan cepat dalam pemberia hak cipta dan hak paten terhadap semua kebudayaan milik Indonesia, Padahal Indonesia itu negara yang kuat dalam berbagai aspek.

  5. tentang pancasila di muat juga donk………..

  6. Saatnya pemerintah harus tegas dalam menjaga kelangsungan budaya kita dengan memberikan waktu dalam kurikulum pendidikan kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: